Selasa, 03 November 2009

Rumah Panggung


Pukul 21.00 WITA, kutelusuri sebuah gang kecil menuju pondokanku yang baru. Sudah hampir seminggu aku mendiami pondokan itu. Penghuninya kebanyakan mahasiswa sekaligus pekerja seperti aku. Hampir seminggu pula aku melintasi gang ini, dan keterasingan yang kurasa belum juga sirna. Aku juga tak tahu mengapa lingkungan yang baru ini terkesan sangat tak bersahabat. Padahal sudah kucoba menjalin keakraban dengan beberapa tetangga terdekatku. Bahkan saat aku pulang dari kampung tak lupa kubagikan oleh-oleh buat mereka. Tetapi hingga detik ini kurasa itu sia-sia. Setiap malam yang dapat aku saksikan saat aku pulang kerja adalah pemandangan yang sama. Yaitu sekelompok pemuda sedang asyik bercanda disertai dengan beberapa botol minuman beralkohol. Jika pagi telah tiba alunan musik dangdut yang saling bertalu terdengar begitu keras dari sound system penghuni rumah semi permanen yang memadati sepanjang gang. Aku seringkali berpikir, mungkin suatu saat kawasan ini akan tergusur juga sebagaimana yang sering aku saksikan di layar TV. Tetapi untuk saat ini aku berdoa semoga hal itu tidak terjadi, karena bagiku inilah satu-satunya tempat yang strategis untuk menghemat dana transpor antara rumah, kampus dan tempatku bekerja. Bersyukurlah semuanya bisa kujangkau dengan jalan kaki. Pernah suatu ketika, ada seorang teman yang menawarkanku untuk pindah ketempat kostannya yang terletak pada salah satu kawasan real estate. Namun aku tetap memilih di sini karena aku ke kota metropolitan bukan untuk rekreasi tetapi kuliah!!! Orang tuaku di kampung yang hanya menggantungkan hidupnya pada sepetak sawah pasti tidak akan sanggup mendanai keperluan yang terkesan bermewah-mewah, jika aku memilih itu. Cukuplah aku bisa dikuliahkan dan urusan hura-hura sebaiknya dilupakan dulu.

Kost-kostan yang kuhuni terdiri dari beberapa kamar yang saling berhadapan atau lebih dikenal dengan istilah pondokan. Ia berada di sudut gang dan diapit oleh rumah-rumah kost yang lain beserta rumah penduduk setempat. Di depan pondokanku berdiri sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu jati. Rumah panggung tersebut terkesan sunyi dan tidak terawat. Satu hal yang masih menjadi tanda tanya dibenakku, adalah mitos rumah panggung yang menjadi buah bibir penduduk setempat. Rumah itu terlihat jelas dari jendela kamarku, sehingga setiap kali aku membuka tirai jendela, pemandangan pertama yang membentur mataku adalah rumah panggung tersebut. Beberapa kali sesama penghuni pondokan memperingatkanku agar berhati-hati dengan rumah panggung tersebut, namun aku tak memberikan tanggapan apa-apa karena menurutku rumah itu tampak biasa saja. Tak ada kesan menakutkan apalagi harus kujahui. Kalau sudah begini aku lebih memilih diam, dan selanjutnya kukubur semua cerita diantara heningnya malam yang sesekali diriuhkan oleh petikan gitar pemuda-pemuda yang ingin menghabiskan malamnya di pinggiran jalan.

***

Tak terasa malam menemaniku begitu lama. Pukul tiga dini hari aku masih tetap terjaga. Mungkin ini adalah pengaruh secangkir kopi yang kuteguk semalam, disaat mataku mulai meredup.
“Aku harus tetap terbangun karena tugas kuliahku belum selesai.” Bentakku dalam hati sebagai motivasi diri.
Saat adzan subuh berkumandang, kugeser tirai jendela kamarku untuk menjemput cahaya benang putih di cakrawala. Namun lagi-lagi pandanganku berpendar pada rumah panggung itu. Dan sebagaimana biasanya kesan yang dapat kutangkap, rumah itu tampak sunyi dan gelap gulita. Kupalingkan pandanganku ke arah yang lain, dan tiba-tiba saja sekelebat cahaya lampu pijar menerangi sisi belakang rumah itu dan selanjutnya cahaya itu padam.
Mungkinkah rumah itu berpenghuni? Atau jangan-jangan ada yang ingin merampok isi rumah itu? Pikirku.
Seketika pikiranku tentang apa yang kusaksikan tadi menjadi buyar oleh kehadiran Pak Darmo, pemilik pondokan yang kuhuni.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya.
“Wa’alaikum salam,” jawabku sambil melangkah ke arah sumber suara.
“Bagaimana kabarmu, Nak? Apa kamu betah tinggal di tempat ini?”
Aku tersenyum karena kukira dia akan mengajakku shalat subuh berjama’ah, tetapi ternyata shalat subuh telah usai dia laksanakan. Aku baru tersadar bahwa sedari tadi waktuku banyak tersita oleh peristiwa rumah panggung itu sampai-sampai adzan subuh tak sempat kudengar.
“Kamu baik- baik saja?” lanjutnya, sambil menatap aneh ke arahku.
“Iy… iya, Pak!” jawabku dengan nada terbata.
“Kalau begitu bapak pamit dulu. Oh yah, pukul delapan nanti penduduk akan mengadakan kerja bakti untuk membersihkan selokan, dan tumpukan sampah di pojok sana.” Ucap Pak Darmo, sambil menunjuk tumpukan sampah yang berada di ujung lorong. Setelah itu dia bergegas pergi.
Kuhirup udara pagi dalam-dalam, dan segera menghampiri keran air di belakang pondokanku untuk berwudhu sebelum waktu subuh benar-benar berlalu.

***
“Kak, jangan dekat-dekat rumah itu,” ucap seorang anak kecil saat kakiku telah berpijak di bawah kolong rumah panggung tersebut.
Aku terdiam sejenak.
“Hei… sobat!!! Sebaiknya kamu istirahat saja.” Teriak penduduk yang lain.
Kucoba memalingkan wajah, untuk menghindari bau tak sedap dari aroma air selokan dan kuperhatikan disekelilingku. Ternyata semuanya sudah bersih, kecuali halaman rumah panggung ini. Satu persatu penduduk memasuki atapnya masing-masing. Sementara sebagaian yang lain mulai menjalankan aktivitas rutinnya, menggayuh becak dan menjajakkan kue-kue kecil, sebagian berdagang sayuran keliling. Dengan agak berat, kulangkahkan kakiku untuk kembali ke pondokanku juga, istirahat dan bersiap-siap ke toko MEBEL ABADI tempatku bekerja part time.

***
Hari ini aku harus kerja lembur. Ada pasokan barang yang baru tiba malam tadi. Aku sangat lelah, langkahku kubiarkan lambat dan sesekali mataku menoleh pada sekelompok pemuda yang lagi-lagi dimabukkan oleh alkohol. Aku berusaha untuk tidak memperdulikan mereka, karena mereka sudah terbiasa dengan kondisi demikian. Dapat aku rasa, malam ini ternyata udara begitu dingin dan memaksa aku untuk menyalakan sebatang rokok agar dapat menghela kebekuan malam. Aku terus berjalan, sesekali kuperhatikan kepulan asap rokokku yang membentuk lingkaran asap. Tanpa kusadari ternyata aku sudah berada tidak jauh dari rumah panggung itu. Ini berarti sebentar lagi pondokanku akan kucapai. Kupercepat langkahku agar dapat cepat sampai, tetapi tiba-tiba langkahku terhenti saat kusaksikan lagi temaran cahaya lampu pijar di rumah panggung itu. Aku menghentikan langkah dan kulirik Seiko di pergelangan tanganku. PUKUL 01.00 DINI HARI!!!!
“Siapa sebenarnya yang menyalakan lampu pijar itu? Bukankan rumah ini tak berpenghuni!” ucapku setengah berbisik.
Entah kekuatan apa yang menstimulus keberanianku, sehingga tanpa sadar aku telah berdiri di atas beranda rumah panggung itu. Kubuka perlahan-lahan daun pintunya. Dengan dada berdebar kulangkahkan kakiku ke dalam. Aku terkejut saat sebatang korek api kunyalakan, kudapati beberapa helai kain putih menutupi perabot-perabot yang ada di dalamnya. Dan yang paling membuat aku terkejut, ketika kulangkahkan kakiku menuju cahaya lampu pijar yang kulihat tadi, kudapati beberapa macam makanan untuk sesajen yang dihiasi dengan beberapa batang lilin berwarna merah. Sesaat tenggorokanku terasa sesak oleh kepulan asap dupa yang terperangkap dalam ruangan itu.
“Astaqfirullah….. ternyata di kota metropolitan ini, masih ada juga yang menggantungkan nasibnya pada senampan sesajen. Begitu sulitkan kondisi negara ini sehingga usaha dan doa kepada-Nya terlupakan?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan