Beruntunglah engkau dicipta dalam gejolak
Disaat api tak hanya membara dalam sekam
Pecahan beling, tak hanya menusuk satu orang
Beruntunglah engkau
Dapat merasakan indahnya sebuah fitnah
Saat kebenaran menjahui logika
Sugesti menjelma belati, yang siap menerjang dadamu
Beruntunglah engkau masih tegar oleh sebuah senyum
Saat orang-orang di sekelilingmu
Bermain dadu dan kartu ramalan
Menaruh idealisme di telapak kaki
Ambisi di atas kepala
Saat berontak berbalas jeruji
Beruntunglah, engkau masih teriak "tidak", di antara letupan senjata
sederetan manusia berseragam
Meski revolusi sudah tak bermakna
Tak lebih dari tarian anarkis dan nyanyian antagonis
Setidaknya kita pernah duduk bersama bercerita tentang revolusi
Saat pandanganmu menangkap butir-butir debu
Yang menempel pada sederetan meja
Tempat pendahulu kita bercengkrama
Yang konon kabarnya mencetuskan misi revolusi
Beruntunglah revolusi diterjang badai
Menyisakan butir-butir debu di pundakmu
Setidaknya aku masih bisa
Menghapusnya dengan telapak tanganku tanpa kau minta
Karena aku begitu mencintaimu
Sebagai pemimpin revolusiku
Engkau menamainya revolusi sebutir debu
Yang kau cipta dari bentukan telapak tangan
Saat engkau mengetukkannya
Karena resah dihantam realitas
Ini adalah revolusi sebutir debu
Revolusi yang tak butuh rupiah
Tak butuh pengakuan dan retorika
Hanya ingin kumpulan titik-titik debu menjelma sahara
Makassar, Agustus 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan