Sabtu, 07 November 2009

Bingkisan Kemerdekaan

Menyapa pagi
Merah putih menghiasi jalan
Seorang bapak tua berbaju kumal
Mengayuh sepeda melintasi jalan berdebu
Berteman sekeranjang ikan dan bau amis
Di pundaknya tertumpuk harapan
Pada serpihan-serpihan rupiah
Untuk makan anak dan istri

Menyapa siang
Merah putih menghiasi jalan
Di perempatan, segerombol anak kecil
Berbaris memenuhi trotoar menjajakkan koran
Sebagian meyuguhkan kaleng tua
Bekas susu bayi Si pemilik rumah megah di samping gubuknya
Mengharap kumpulan logam
Menyambung nyawa sehari

Menyapa senja
Merah putih menghiasi jalan
Sepasang muda-mudi bercengkrama
Dengan busana seadanya, saling merangkul mencandai kepulan asap kretek
Menguntai belati yang akan menusuk paru-parunya
Berteman sebotol anggur, menyusun impian di negeri khayalan

Menyapa malam
Merah putih menghiasi jalan
Temaram cahaya melukiskan bayang-bayang kemerdekaan
Kupu-kupu membentangkan sayap
Bertebaran membagi senyum
Mengetuk kaca mobil-mobil mewah
Menyenangkan si pemburu nafsu

Di pagi, esok
Merah putih menghiasi jalan
Seyum mentari menyambut hari lahir negeriku
17 Agustus 2009, negeriku menjemput usia 64 tahun
Bingkisan apa yang akan kuberi untuknya?
Apakah sepeda si bapak tua?
Atau kaleng susu si pengemis kecil?
Pantaskah kuberi sekotak kretek?
atau senyum kupu-kupu malam?
Atau kuberi saja sebuah pena
Untuk ia menulis
Apa hakekat kemerdekaan?

Makassar, 16 Agustus 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan