Aku
menduakanmu, walaupun hanya dalam pahamanku. Selingkuhkah aku???
Sudah dua hari ini, bergantian dua orang
di masa laluku yang pernah berbunga menyapaku kembali. Entah bagaimana caranya
mereka menemukan nomor ponselku yang kusembunyikan sedemikian rupa, yang
jelasnya suara mereka terdengar riuh lagi di gendang telingaku. Dan kehadiran
mereka, mengusik imajinasi liarku mengenang kembali segala hal yang pernah
dirasai bersama. Belum lagi pertemanan dalam jejaring sosial, membuat aku
semakin banyak menelan remah-remah kata yang mengotori hati dan pikiran. Beruntunglah,
dewasaku masih sedikit mengingatkan bahwa hati ini telah dan harus tertambat
pada satu orang yang telah lama menemani perjalananku. Terakhir, aku kembali dikejutkan
dengan satu pesan singkat yang begitu saja terbaca di layar ponselku;
Tuhan telah menyalakan
obor dalam hatimu yang memancarkan cahaya pengetahuan dan keindahan, sungguh
berdosa jika memadamkannya dan mencampakkannya dalam abu. #KAHLIL GIBRAN
Pesan singkat ini, membuatku penasaran.
Bukan penasaran karena tidak tahu siapa pengirimnya, tetapi penasaran bahwa
apakah pengirimnya tahu benar siapa aku, dan apa makna keindahan itu?
Seandainya dia dapat membaca pikiranku, sebelum mengirimiku, tahuka kamu aku menduakannya, walaupun hanya
dalam pahamanku. Indahkah aku?
Karenanya, semalaman aku tidak bisa
tidur. Orang misterius itu yang kunamai Mr X memujiku atau menertawataiku.
Apalagi dia mengikutkan nama salah satu penyair favoritku. Aku malu,
sebenarnya. Malu pada diriku sendiri. Jangankan menyalakan sebuah obor dalam
hatiku, sebiji korek api saja enggan untuk berbagi terangnya, tahu kenapa?
Karena hatiku beku oleh berbagai pengkhianatan yang kulakukan. Bagaimana
cahanya pengetahun itu bisa terpancar, sementara pikiranku habis terkuras
meratapi cerita-cerita melankolik yang sengaja kubuat agar terkesan romantis.
Apatah lagi membahasakan keindahan dalam diriku, engkau salah! Secara empirik
indahku, ‘jika kau berkata demikian’ tak lebih dari sosok perempuan yang tidak
bisa menjaga fisik dari pandanganmu. Dan rasionalku berbisik, aku tak lebih
dari perempuan yang selalu berpura-pura cerdas agar semua kagum, dan
berpura-pura sabar, agar kau bertekuk lutut dengan kesabaranku. Ha…ha…ha…, masih belum lelahkah kau bersama
si Gibran memujiku? Batinku merasai, engkau memujiku sekaligus
menertawaiku.
Aku
telah berkhianat, kuduakan engkau dalam hati dan pikiranku, masihkah kau
menyebutku indah?
Perempuan cahaya menurutku adalah yang
menyelaraskan pengetahuan dengan pilihan-pilihan hidupnya secara bijaksana. Itu
baru indah. Dan aku percaya karena keselarasan itulah, cahayanya akan memancar
ke tempat yang damai, mungkin di hati seseorang yang damai pula. Bukan di
hatiku. Hatiku dipenuhi dengan debu yang hinggap setiap kali aku berkhianat dan
menaruh orang lain di dalamnya, atau setiap kali aku menyandingkannya dengan
hal-hal materil di kehidupanku. Hati ini begitu hitam, bagaimana cahaya itu
akan terpancar. Jadi aku tidak lebih dari seorang perempuan bertopeng agar kau
kenali bersahaja. Aku pelan-pelan telah mencampakkan diriku sendiri dalam abu.
Mungkin engkau benar, Mr X. Tetapi
engkau salah mengirim pesan singkat itu padaku. Karena perempuan yang kau
maksud, ada di sudut lain menantimu....
Makassar
(Kala fajar, telah bercahaya di mataku), 21 April 2012

hahahahahaha....
BalasHapussaya jadi teringat nasehat We Tenriabeng kepada Sawerigading, saudara kembar emasnya yang jatuh cinta kepadanya, dan dia juga mencintai saudaranya itu.
"Berlayarlah ke sisi barat dunia saudaraku, ke negeri Cina, jodohmu ada di sana, namanya I We Cudai. Dia telah memantimu"
hahhahhay....
:-)...ga kepikiran deh sampai ke kisah sawerigading.....jauh dari isi ceirtaku.
HapusTuh, paragraf terakhir bernada begitu:
BalasHapus"Mungkin engkau benar, Mr X. Tetapi engkau salah mengirim pesan singkat itu padaku. Karena perempuan yang kau maksud, ada di sudut lain menantimu...."
oooo...iye di...baruki ku perhatikan :-)
Hapus