Hujan berhenti gemerisiknya. Perlahan-lahan kecerahan di cakrawala telah nampak. Hembusan angin pun menyejuk dari dinginnya. Sore yang indah! Siapapun yang melihatnya, pasti akan berucap sama dengannya. Dia menyukai sore ini, apalagi suasana di taman kota itu, mengingatkannya pada satu nama yang sulit lekang oleh waktu yang menelikung perjalanannya. Di tempat inilah, awalnya dia mengenal seseorang yang memerhatikannya dari jauh, dan melayangkan senyum paling manisnya saat mata mereka tidak sengaja beradu. Dia merinduinya, sama seperti dia merindui mekaran bunga yang merona di tempat ini. Sungguh, sosoknya adalah jelmaan Yusuf yang tersohor kesempurnaannya. Perjumpaan dia dengannya membangkitkan kerinduan untuk menyempurna bersamanya. Dan perlahan-lahan kerinduan itu membuka jalan pertemuan. Telah beberapa kali Zakiah meluangkan waktu ke taman itu, hanya sekedar menanti mata teduh yang memandangnya dari kejauhan. Pun Si pemilik keteduhan itu juga menginginkan yang sama dari Zakiah. Dia merindui senyuman gadis mungil dari balik kuncup bebungaan. Itu telah beberapa kali terjadi, sampai mereka akhirnya memutuskan berkenalan.
Inilah, secercah bahagian yang mendatangkan perih di hati Zakiah. Dia tahu bahwa taman kota itu menghadirkan kesempurnaan untuknya, namun dia juga sadar kesempurnaan itu hadir di waktu yang salah. Dia telah lama menyerahkan hatinya pada Sendra suaminya, tetapi hati yang lain memintanya untuk singgah sejenak dari hidupnya yang biasa. Lelaki di taman itu selalu membayang di pikirannya walaupun Sendra setia mendampinginya. Dia merasa bersalah kepada suaminya, tetapi batinnya selalu saja berbisik, salahkah dia bila mencinta?
Sejak saat itu, Zakiah menjadikan hujan sebagai tempat labuhan hatinya dan teman setianya saat gundah. Dalam hujan, segala resah mengalir begitu saja, entah dimana bermuara, itu tidak penting. Yang pasti pendar hati harus dibuang jauh-jauh. Sejak itu pula, Zakiah tidak pernah lagi menginjakkan kaki di taman kota itu. Dia takut berjumpa dengan lelaki itu lagi, dia khawatir tidak mampu membendung rasanya yang mengantarkannya pada sebuah pengkhianatan. Meski dia sangat ingin, tetapi dengan segala kemampuannya dia meredam keinginan itu. Dalam hatinya, dia selalu menanti jawaban dari satu pertanyaannya, alasan apa yang membuatnya tidak mencintai Sendra? Sejak memutuskan menjalani hidup dengannya, tidak sekalipun dia pernah menyakiti hati Zakiah. Bahkan setitik air mata yang membening di mata Zakiah, membuatnya begitu merasa bersalah. Secara fisik, laki-laki di taman kota itu memang lebih sempurna, tetapi kedalaman hati susah ditebak siapa yang paling tulus di antara mereka.
***
Perubahan sikap Zakiah akhir-akhir ini terbaca jelas di matanya. Meski dia berusaha menyembunyikan begitu jauh dalam lubuk hatinya, pendar di matanya tidak bisa berbohong. “Ada yang tidak biasa pada sorot mata dan rona wajahnya”, tebak Sendra suatu sore saat Zakiah tengah asyik memandangi titik-titik hujan. Perlahan dia menyentuh pundak istrinya yang duduk memunggunginya di beranda rumah. “Ada apa? Tidak bosankah kau menghabiskan waktu bersamanya? Kadang aku cemburu pada hujan, sebab kau terlalu asyik dengannya.” Ucap Sendra. Kehadiran suaminya membuyarkan lamunan Zakiah. Dia membalikkan tubuhnya, berhadapan dekat dengan Sendra. “Kau terlihat berbeda akhir-akhir ini. Bisakah kau menceritakannya kepadaku?” Sendra menegaskan maksud kehadirannya. Zakiah menatap suaminya lekat, begitu lekat dalam diam. Dia tidak tahu harus memulainya darimana. Meskipun juga dia tahu, tetapi dia ragu menceritakan kegundahannya sebab ini pasti akan membuat Sendra terluka. Tatapan nanarlah satu-satunya penanda bahwa ada yang terpendam di benaknya.
Kecintaan Sendra pada istrinya, membuatnya tidak terlalu menggebu menanti jawaban Zakiah. Lambat laun, Zakiah pasti akan bercerita, batinnya. Dia menarik nafas dalam-dalam untuk menormalkan rasa ingin tahunya. Selanjutnya dia menuntun Zakiah ke tempat istirahatnya. Di samping istrinya yang mulai pulas, Sendra lekat memandanginya. Berkelindan tanya yang belum sempat terjawab sempurna oleh Zakiah di benaknya. Dia tidak tega melihat istrinya resah pada satu alasan yang tidak dia ketahui. Tetapi dia juga tidak ingin memaksa Zakiah bercerita, seakan-akan dia adalah hakim yang harus menghukumi. Dalam lamunan bisunya, akhirnya Sendra tunduk pada rasa ngantuk yang mulai menggelayut di matanya.
Keheningan malam, membuat Zakiah terbangun. Seperti telah direncanakan, kini giliran Zakiah yang memandang lekat suaminya. Maaf, aku telah mengkhianatimu. Hatiku telah lama dimiliki oleh yang lain, tetapi jujur aku mencintaimu…. Dalam, dia menatap suaminya sambil mengusap ujung rambut Sendra. Air matanya menetes pelan tanpa dirasanya. Dia mengecup lembut kening suaminya sambil berbisik, beri aku satu alasan untuk membencimu! Aku tidak ingin terpenjara seperti ini. Alasan itu akan memerdekakan jiwaku. Sendra tidak bergeming. Dia terlanjur berlabuh ke tempat yang lain. Apa yang harus aku lakukan? Hukumankah ini bagiku yang telah berani membagi rasa? Tuhan, utuhkan hatiku untuk kuberikan satu di antara mereka.bisiknya pada heningnya malam.
Sampai malam begitu lekat, Zakiah tetap terjaga. Dia mengalihkan lamunannya pada dinding kamarnya yang dicat putih bersih sebagaimana kesepakatan Zakiah dan Sendra. Pelan-pelan, pikirannya, mengantarkan tatapannya pada dua pancaran cahaya dari sudut yang berbeda di tembok putih itu. Cahaya itu mengerucut pada dua titik biasannya. Satu titik tampak kebiruan, dan satunya lagi terbias merah muda. Kedua titik itu saling mendekati, tetapi tidak bisa berbaur. Kedua-duanya berusaha memancarkan sinar paling cerahnya. Zakiah menatap kedua titik itu dalam-dalam. Dia begitu penasaran, siapakah yang akan memenangkan pertarungan ini. Titik birukah? Atau titik merah muda? Selanjutnya, dia melihat ada cahaya lain yang datang pada kedua titik itu. Cahayanya terlihat abu-abu. Tetapi tetap membiaskan kemilau perak dari warnanya. Titik keperakan itu perlahan-lahan mendekati cahaya merah muda. Dekat, dan sangat dekat. Tetapi sebelum cahaya keperakan itu melebur pada merah muda, dia menarik diri ke titik yang satunya. Di sana cahaya biru menanti warna keperakan mendekatinya. Zakiah bingung, akan mendukung titik yang mana. Dia menyukai titik biru, dan dia pun senang dengan merah muda. Harapannya, kedua titik itu sama-sama memang. Tetapi bisakah itu terjadi? Pikirnya. Dia kembali memerhatikan titik-titik itu, sekarang titik merah muda mendekati cahaya keperakan. Entah apa yang dibisikkan si merah muda itu pada cahanya keperakan. Yang pasti, cahaya keperakan melebur pada titik merah muda. Pancarannya indah,dari sebuah perpaduan yang utuh. Keduanya saling melengkapi kemilaunya. Titik biru, perlahan hilang dari dinding putih itu, dan tertinggal sebuah warna merah muda kemilau bak pancaran batu rubi. Lamunan Zakiah, dibuyarkan oleh titik itu, dia pun menyandarkan tangannya pada tembok kamarnya untuk meraih cahaya merah kemilau tersebut. Siapakah titik merah muda itu? Sendrakah atau lelaki di taman kota itu? Batinnya.
***
Pagi ini seperti biasanya sebelum berangkat bekerja, Sendra selalu menyempatkan diri membantu istrinya untuk beberapa hal urusan rumah. Mulai dari membereskan tempat tidur, sampai pada menyiapkan sarapan pagi. Dari awal pernikahanya, mereka telah membuat keepakatan untuk sebisa mungkin melakukan pekerjaan bersama-sama. Dan pagi itu semuanya telah selesai. Sebagai bukti sayangnya, setiap pagi Sendra selalu menghadiahkan tiga kali kecupan hangat di kening istrinya. Pertama untuk membangunkan Zakiah di pagi hari, kedua sebagai ucapan terima kasih pada segelas teh yang disuguhkan istrinya, dan ketiga saat dia telah memegang gagang pintu untuk berangkat bekerja. Selanjutnya Zakiah akan menghabiskan waktu sendiri di rumahnya. Dalam kesindirian itulah, dia teringat kembali pada titik merah muda semalam. Pikiran itu mengantarkannya pada sebuah jalan utuk mencari tahu si pemilik titik merah muda itu. Dia tidak ingin terkekang begitu lama oleh satu rasa yang sebenarnya tidak sepantasnya hadir.
Zakiah berjalan pelan, meneliti satu persatu foto-foto pernikahannya beberapa tahun silam dengan Sendra yang terpajang pada dinding di ruangan tamunya. Gambar dalam foto itu terlihat bahagia. Terlintas dalam benak Zakiah akan suka duka berumah tangga yang telah mereka jalani. Waktu setahun tahun, adalah waktu yang cukup bagi mereka untuk saling memahami satu sama lain. Zakiah pun tahu benar akan hal itu. Zakiah memejamkan matanya, diresapinya segala hal yang telah dilakukan Sendra untuknya dalam-dalam. Tak pernah sekalipun Sendra mengucapkan kata cinta untuknya, tetapi pengorbanannya jauh melampaui kata-kata itu. Huuuuuuhhh….. Dia ingin beban dihatinya terlepas. Diusapinya gambar Sendra yang melekat di dinding, dan satu-persatu bulir-bulir air matanya menetes.
***
Entah dengan alasan apa, tiba-tiba Sendra memutuskan untuk kembali lebih awal hari ini. Dia pulang ke rumahnya tanpa memberi tahu Zakiah. Tetapi dia sangat terkejut saat mendapati Zakiah tenggelam dalam tangisnya sambil memeluk gambar dirinya. Air mata inikah yang memanggilku pulang? Pikirnya. Dia membenamkan istrinya dalam pelukannya. Begitu lama, mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sampai akhirnya Sendra memutuskan bertanya, “Apa yang membuatmu bersedih? Apakah aku telah menyakitimu?” ucapnya kepada Zakiah.
Zakiah menggelengkan kepalanya, “tidak... sama sekali engkau tidak pernah menyakitiku.”
“Lantas, mengapa engkau menangis? Tolong ceritakanlah padaku.”
Zakiah makin berlinangan air mata, “bisakah engkau memaafkan aku?” nada suaranya tercekat.
Sendra nampak kebingungan, “Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa. Mengapa harus meminta maaf….?”
Zakiah menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan suaminya, “aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku me….mencintai orang lain tanpa engkau tahu.” Suaranya pelan.
Sendra melepaskan dekapannya, dia menyentuh wajah Zakiah dengan kedua tangannya. “Apakah karena itu, kau terlihat resah akhir-akhir ini?”
Zakiah mengangguk, dan Sendra menarik nafasnya dalam-dalam.
“Bukan salahmu jika mencintai seseorang selain aku, itu semua salahku karena aku tidak bisa memberikan cinta yang utuh padamu. Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu, Istriku. Aku tidak ingin kehilanganmu dan jauh darimu karena aku begitu mencintaimu, tetapi jika memang kau menginginkannya maka kejarlah dia.” Lanjut Sendra.
Tangisan Zakiah tidak terbendung lagi. “tidak, aku meminta maaf karena aku menyadari engkaulah yang terindah dalam hidupku. Aku tidak memiliki satu alasan pun untuk membandingkanmu dengan yang lain. Bisakah engkau memaafkanku” pintanya, sambil melayangkan pandangan tepat ke mata suaminya.
Hening sejenak meronai suasana jiwa mereka. Sendra pun mengusap air mata yang menggenang di kelopak mata Zakiah. “Aku pun tidak memiliki alasan untuk membencimu, Istriku.” Dia mengecup kening istrinya.
Zakiah tersenyum, “bisakah kau menemaniku menghirup udara sore di taman kota?” bisik Zakiah di telinga suaminya.
Sendra mengangguk dan meraih lengan istrinya.
Titik merah mudaku, cahayamu membuatku sempurna, kini kutahu hatimu seluas samudera, batin Zakiah di penuhi taburan kembang setaman. Sangat wangi dan indah sebagaimana keutuhan cinta yang menudunginya sore ini.
Benteng Somba Opu, 11.36 – 02. 45 (senin, 2 April 2012)
Inilah, secercah bahagian yang mendatangkan perih di hati Zakiah. Dia tahu bahwa taman kota itu menghadirkan kesempurnaan untuknya, namun dia juga sadar kesempurnaan itu hadir di waktu yang salah. Dia telah lama menyerahkan hatinya pada Sendra suaminya, tetapi hati yang lain memintanya untuk singgah sejenak dari hidupnya yang biasa. Lelaki di taman itu selalu membayang di pikirannya walaupun Sendra setia mendampinginya. Dia merasa bersalah kepada suaminya, tetapi batinnya selalu saja berbisik, salahkah dia bila mencinta?
Sejak saat itu, Zakiah menjadikan hujan sebagai tempat labuhan hatinya dan teman setianya saat gundah. Dalam hujan, segala resah mengalir begitu saja, entah dimana bermuara, itu tidak penting. Yang pasti pendar hati harus dibuang jauh-jauh. Sejak itu pula, Zakiah tidak pernah lagi menginjakkan kaki di taman kota itu. Dia takut berjumpa dengan lelaki itu lagi, dia khawatir tidak mampu membendung rasanya yang mengantarkannya pada sebuah pengkhianatan. Meski dia sangat ingin, tetapi dengan segala kemampuannya dia meredam keinginan itu. Dalam hatinya, dia selalu menanti jawaban dari satu pertanyaannya, alasan apa yang membuatnya tidak mencintai Sendra? Sejak memutuskan menjalani hidup dengannya, tidak sekalipun dia pernah menyakiti hati Zakiah. Bahkan setitik air mata yang membening di mata Zakiah, membuatnya begitu merasa bersalah. Secara fisik, laki-laki di taman kota itu memang lebih sempurna, tetapi kedalaman hati susah ditebak siapa yang paling tulus di antara mereka.
***
Perubahan sikap Zakiah akhir-akhir ini terbaca jelas di matanya. Meski dia berusaha menyembunyikan begitu jauh dalam lubuk hatinya, pendar di matanya tidak bisa berbohong. “Ada yang tidak biasa pada sorot mata dan rona wajahnya”, tebak Sendra suatu sore saat Zakiah tengah asyik memandangi titik-titik hujan. Perlahan dia menyentuh pundak istrinya yang duduk memunggunginya di beranda rumah. “Ada apa? Tidak bosankah kau menghabiskan waktu bersamanya? Kadang aku cemburu pada hujan, sebab kau terlalu asyik dengannya.” Ucap Sendra. Kehadiran suaminya membuyarkan lamunan Zakiah. Dia membalikkan tubuhnya, berhadapan dekat dengan Sendra. “Kau terlihat berbeda akhir-akhir ini. Bisakah kau menceritakannya kepadaku?” Sendra menegaskan maksud kehadirannya. Zakiah menatap suaminya lekat, begitu lekat dalam diam. Dia tidak tahu harus memulainya darimana. Meskipun juga dia tahu, tetapi dia ragu menceritakan kegundahannya sebab ini pasti akan membuat Sendra terluka. Tatapan nanarlah satu-satunya penanda bahwa ada yang terpendam di benaknya.
Kecintaan Sendra pada istrinya, membuatnya tidak terlalu menggebu menanti jawaban Zakiah. Lambat laun, Zakiah pasti akan bercerita, batinnya. Dia menarik nafas dalam-dalam untuk menormalkan rasa ingin tahunya. Selanjutnya dia menuntun Zakiah ke tempat istirahatnya. Di samping istrinya yang mulai pulas, Sendra lekat memandanginya. Berkelindan tanya yang belum sempat terjawab sempurna oleh Zakiah di benaknya. Dia tidak tega melihat istrinya resah pada satu alasan yang tidak dia ketahui. Tetapi dia juga tidak ingin memaksa Zakiah bercerita, seakan-akan dia adalah hakim yang harus menghukumi. Dalam lamunan bisunya, akhirnya Sendra tunduk pada rasa ngantuk yang mulai menggelayut di matanya.
Keheningan malam, membuat Zakiah terbangun. Seperti telah direncanakan, kini giliran Zakiah yang memandang lekat suaminya. Maaf, aku telah mengkhianatimu. Hatiku telah lama dimiliki oleh yang lain, tetapi jujur aku mencintaimu…. Dalam, dia menatap suaminya sambil mengusap ujung rambut Sendra. Air matanya menetes pelan tanpa dirasanya. Dia mengecup lembut kening suaminya sambil berbisik, beri aku satu alasan untuk membencimu! Aku tidak ingin terpenjara seperti ini. Alasan itu akan memerdekakan jiwaku. Sendra tidak bergeming. Dia terlanjur berlabuh ke tempat yang lain. Apa yang harus aku lakukan? Hukumankah ini bagiku yang telah berani membagi rasa? Tuhan, utuhkan hatiku untuk kuberikan satu di antara mereka.bisiknya pada heningnya malam.
Sampai malam begitu lekat, Zakiah tetap terjaga. Dia mengalihkan lamunannya pada dinding kamarnya yang dicat putih bersih sebagaimana kesepakatan Zakiah dan Sendra. Pelan-pelan, pikirannya, mengantarkan tatapannya pada dua pancaran cahaya dari sudut yang berbeda di tembok putih itu. Cahaya itu mengerucut pada dua titik biasannya. Satu titik tampak kebiruan, dan satunya lagi terbias merah muda. Kedua titik itu saling mendekati, tetapi tidak bisa berbaur. Kedua-duanya berusaha memancarkan sinar paling cerahnya. Zakiah menatap kedua titik itu dalam-dalam. Dia begitu penasaran, siapakah yang akan memenangkan pertarungan ini. Titik birukah? Atau titik merah muda? Selanjutnya, dia melihat ada cahaya lain yang datang pada kedua titik itu. Cahayanya terlihat abu-abu. Tetapi tetap membiaskan kemilau perak dari warnanya. Titik keperakan itu perlahan-lahan mendekati cahaya merah muda. Dekat, dan sangat dekat. Tetapi sebelum cahaya keperakan itu melebur pada merah muda, dia menarik diri ke titik yang satunya. Di sana cahaya biru menanti warna keperakan mendekatinya. Zakiah bingung, akan mendukung titik yang mana. Dia menyukai titik biru, dan dia pun senang dengan merah muda. Harapannya, kedua titik itu sama-sama memang. Tetapi bisakah itu terjadi? Pikirnya. Dia kembali memerhatikan titik-titik itu, sekarang titik merah muda mendekati cahaya keperakan. Entah apa yang dibisikkan si merah muda itu pada cahanya keperakan. Yang pasti, cahaya keperakan melebur pada titik merah muda. Pancarannya indah,dari sebuah perpaduan yang utuh. Keduanya saling melengkapi kemilaunya. Titik biru, perlahan hilang dari dinding putih itu, dan tertinggal sebuah warna merah muda kemilau bak pancaran batu rubi. Lamunan Zakiah, dibuyarkan oleh titik itu, dia pun menyandarkan tangannya pada tembok kamarnya untuk meraih cahaya merah kemilau tersebut. Siapakah titik merah muda itu? Sendrakah atau lelaki di taman kota itu? Batinnya.
***
Pagi ini seperti biasanya sebelum berangkat bekerja, Sendra selalu menyempatkan diri membantu istrinya untuk beberapa hal urusan rumah. Mulai dari membereskan tempat tidur, sampai pada menyiapkan sarapan pagi. Dari awal pernikahanya, mereka telah membuat keepakatan untuk sebisa mungkin melakukan pekerjaan bersama-sama. Dan pagi itu semuanya telah selesai. Sebagai bukti sayangnya, setiap pagi Sendra selalu menghadiahkan tiga kali kecupan hangat di kening istrinya. Pertama untuk membangunkan Zakiah di pagi hari, kedua sebagai ucapan terima kasih pada segelas teh yang disuguhkan istrinya, dan ketiga saat dia telah memegang gagang pintu untuk berangkat bekerja. Selanjutnya Zakiah akan menghabiskan waktu sendiri di rumahnya. Dalam kesindirian itulah, dia teringat kembali pada titik merah muda semalam. Pikiran itu mengantarkannya pada sebuah jalan utuk mencari tahu si pemilik titik merah muda itu. Dia tidak ingin terkekang begitu lama oleh satu rasa yang sebenarnya tidak sepantasnya hadir.
Zakiah berjalan pelan, meneliti satu persatu foto-foto pernikahannya beberapa tahun silam dengan Sendra yang terpajang pada dinding di ruangan tamunya. Gambar dalam foto itu terlihat bahagia. Terlintas dalam benak Zakiah akan suka duka berumah tangga yang telah mereka jalani. Waktu setahun tahun, adalah waktu yang cukup bagi mereka untuk saling memahami satu sama lain. Zakiah pun tahu benar akan hal itu. Zakiah memejamkan matanya, diresapinya segala hal yang telah dilakukan Sendra untuknya dalam-dalam. Tak pernah sekalipun Sendra mengucapkan kata cinta untuknya, tetapi pengorbanannya jauh melampaui kata-kata itu. Huuuuuuhhh….. Dia ingin beban dihatinya terlepas. Diusapinya gambar Sendra yang melekat di dinding, dan satu-persatu bulir-bulir air matanya menetes.
***
Entah dengan alasan apa, tiba-tiba Sendra memutuskan untuk kembali lebih awal hari ini. Dia pulang ke rumahnya tanpa memberi tahu Zakiah. Tetapi dia sangat terkejut saat mendapati Zakiah tenggelam dalam tangisnya sambil memeluk gambar dirinya. Air mata inikah yang memanggilku pulang? Pikirnya. Dia membenamkan istrinya dalam pelukannya. Begitu lama, mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sampai akhirnya Sendra memutuskan bertanya, “Apa yang membuatmu bersedih? Apakah aku telah menyakitimu?” ucapnya kepada Zakiah.
Zakiah menggelengkan kepalanya, “tidak... sama sekali engkau tidak pernah menyakitiku.”
“Lantas, mengapa engkau menangis? Tolong ceritakanlah padaku.”
Zakiah makin berlinangan air mata, “bisakah engkau memaafkan aku?” nada suaranya tercekat.
Sendra nampak kebingungan, “Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa. Mengapa harus meminta maaf….?”
Zakiah menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan suaminya, “aku telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku me….mencintai orang lain tanpa engkau tahu.” Suaranya pelan.
Sendra melepaskan dekapannya, dia menyentuh wajah Zakiah dengan kedua tangannya. “Apakah karena itu, kau terlihat resah akhir-akhir ini?”
Zakiah mengangguk, dan Sendra menarik nafasnya dalam-dalam.
“Bukan salahmu jika mencintai seseorang selain aku, itu semua salahku karena aku tidak bisa memberikan cinta yang utuh padamu. Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu, Istriku. Aku tidak ingin kehilanganmu dan jauh darimu karena aku begitu mencintaimu, tetapi jika memang kau menginginkannya maka kejarlah dia.” Lanjut Sendra.
Tangisan Zakiah tidak terbendung lagi. “tidak, aku meminta maaf karena aku menyadari engkaulah yang terindah dalam hidupku. Aku tidak memiliki satu alasan pun untuk membandingkanmu dengan yang lain. Bisakah engkau memaafkanku” pintanya, sambil melayangkan pandangan tepat ke mata suaminya.
Hening sejenak meronai suasana jiwa mereka. Sendra pun mengusap air mata yang menggenang di kelopak mata Zakiah. “Aku pun tidak memiliki alasan untuk membencimu, Istriku.” Dia mengecup kening istrinya.
Zakiah tersenyum, “bisakah kau menemaniku menghirup udara sore di taman kota?” bisik Zakiah di telinga suaminya.
Sendra mengangguk dan meraih lengan istrinya.
Titik merah mudaku, cahayamu membuatku sempurna, kini kutahu hatimu seluas samudera, batin Zakiah di penuhi taburan kembang setaman. Sangat wangi dan indah sebagaimana keutuhan cinta yang menudunginya sore ini.
Benteng Somba Opu, 11.36 – 02. 45 (senin, 2 April 2012)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan