Rabu, 18 April 2012

Daeng Kebe, Daeng Jumpa, Dan Bintang Jatuh


Bella atau Daeng Kebe, begitulah dia biasanya akrab disapa orang-orang di sekitar tempat tinggalnya. Dia berasal dari salah satu daerah kecil di bagian selatan kota Makassar. Sebagaimana kebanyakan orang, anggapan tentang indahnya kota metropolitan dan cita-cita hidup nyaman di kota membuatnnya sekeluarga berpindah domisili. Meski awalnya ditentang oleh Daeng Jumpa, namun kebulatan tekad Daeng Kebe meluluhkan hatinya. Sebagai bekal untuk bertahan hidup sementara, maka sebidang tanah warisan orang tuanya dan seekor sapi peliharaan terjual. “Sebagai ongkos dan modal,” katanya. Alasan lain kepindahannya karena kagum melihat orang-orang sekampungnya yang telah lama hidup di kota, pulang ke kampung pada waktu-waktu tertentu dengan penampilan menarik. Berbeda dengannya yang berkulit hitam dan bau matahari selalu membayanginya meskipun sebenarnya dia cantik. Mengingat usianya yang baru sekitar 18 tahun, maka dia pun ingin seperti teman-temannya hidup nyaman di kota dan mendapat pujian karena penampilan yang terawat dan uang yang banyak.


Setiba di Makassar, Daeng Kebe dan anaknya bernama Ciwang menempati sebuah rumah kontrakan yang cukup besar di pinggiran kota yang disewanya perbulan. “Untuk sementara, sebelum punya tempat sendiri,” katanya. Sementara Daeng Jumpa, suaminya tetap tinggal di kampung sampai becaknya selesai dan siap beroperasi di Makassar. Karena tinggal di daerah yang sesak dengan kost-kosan pegawai swasta dan mahasiswa, dia pun berhasil mendapat pekerjaan dari orang-orang di sekitar kontrakannya sebagai buruh cuci. “Lagi-lagi sampingan, sebelum mendapat yang lebih baik,” katanya.
Menjelang akhir bulan, keresahan mulai mendera Daeng Kebe. Dia sama sekali belum mendapatkan pekerjaan yang menurutnya layak sebagaimana teman-teman sekampungnya. Hal ini disebabkan karena dia tidak memiliki bekal keterampilan apapun. Dia hanya mengantongi ijazah sekolah dasar karena tidak sempat menamatkan dirinya di sekolah menengah pertama, pun dengan Daeng Jumpa. Mereka berdua dinikahkan pada usia muda sebagaimana kebiasaan di kampungnya. Bahkan saat ini, dia harus bersiap-siap mencari tempat yang lebih sederhana dibanding kontrakannya sekarang karena cadangan uangnya perlahan menipis. Ditambah lagi, Daeng Jumpa yang telah seminggu lalu mengoperasikan becaknya di Makassar, belum mampu mengumpulkan uang yang banyak. Jangankan uang banyak, modal membuat becak saja belum kembali. Si Ciwang, anak mereka juga tidak terurus dengan baik. Di usianya yang menghampiri usia sekolah, tidak ada tanda-tanda akan disekolahkan karena persoalan akte kelahiran yang tidak ada dan KTP orang tua yang belum sempat diurus. Impian hidup nyaman dan layak di kota, terasa mengabur di ruang mimpi mereka.

Bulan-bulan selanjutnya, kesulitan keuangan makin mereka rasakan karena pemasukan mereka tidak sebanding dengan pengeluarannya. Tiap bulan mereka harus berpindah-pindah kontrakan dengan kualitas yang semakin menurun. Pertengkaran-pertengkaran pun semakin sering terdengar antara Daeng Kebe dan Daeng Jumpa. Mulai dari persoalan sepeleh sampai pada persoalan saling menyalahkan karena memilih hidup di Makassar. Ciwang yang terlanjur tidak masuk sekolah di tahun ini, juga semakin jauh dari hidupnya yang normal. Dia kerap kali ikut-ikutan dengan anak-anak di sekitar rumahnya, memulung sampah, mengemis di lampu merah, ojek payung dan kuli angkat di mall-mall, sampai pernah satu kali kedapatan mencuri uang penjual sayur sekitar rumahnya. Namun hal ini tidak bisa dicegah oleh orang tuanya karena mereka butuh dana dan diam-diam menikmati penghasilan yang didapatkan dari Si Ciwang.
Puncaknya, terjadi pada saat mereka terpaksa hidup dijalanan karena simpanan mereka telah benar-benar habis. Untung masih ada orang yang berbaik hati kepada mereka. Orang itu meminjamkan sebidang tanah kepada Daeng Kebe sekeluarga untuk mereka tempati. Di tanah itulah mereka membuat tempat tinggal seadanya dengan atap dari bekas-bekas spanduk dan dinding kardus. Lumayan untuk tempat tidur, ditambah lagi lokasinya yang sangat dekat dengan tempat pembuangan sampah memudahkan Daeng Kebe dalam pekerjaan memulungnya, meski rumahnya kerap kali dihujani bau yang amat menusuk hidung.

Mereka benar-benar kewalahan mensiasati hidup di kota Makassar. Daeng Jumpa sebagai kepala keluarga tidak mampu mengendalikan roda ekonomi rumah tangganya. Beban hidup ini menggunung di kepalanya dan akhirnya dia terjerumus pada kebiasaan  berjudi dari sedikit hasil menarik becaknya dan minum minuman keras. Dia juga kerap kali pulang ke rumahnya dengan sempoyongan dan marah-marah sampai memukul Daeng Kebe yang dituduhnya sebagai penyebab kemiskinan mereka karena memaksa pindah ke kota. Bahkan dia semakin tidak peduli dengan anak satu-satunya yang nyaris tidak terurus dan sangat akrab dengan kata-kata kasar. Daeng Kebe juga tidak bisa berontak pada suaminya ketika pada suatu malam Daeng Jumpa menawarkan pekerjaan untuknya.

“Apa yang kamu harapkan dari yabo’-yabo’? Setiap waktu badanmu sangat bau dan hasilnya tidak seberapa. Sebaiknya kamu berpikir untuk mengikuti jejak Si Tina!” Kata Daeng Jumpa.

“Maksudnya?”

“Jangan pura-pura tidak tahulah, kerja seperti Tina, gampang mendapatkan uang banyak tanpa membutuhkan pendidikan tinggi. Saya siap antar jemput kamu.”'

“Apa…! Apa Daeng menginginkan saya menjual diri?? Saya tidak mau!!! Seharusnya Daenglah yang berpikir mencari pekerjaan atau menabung sedikit demi sedikit hasil becak. Jangan hanya dihabiskan untuk berjudi dan beli minuman keras.”

PPpppaaakkk….terdengar suara tamparan yang begitu keras. “Jangan membantah!!! Pokoknya kamu harus mengikuti apa kataku. Tidak ada pilihan lain, jika kamu tidak mau berarti kita akan mati kelaparan….”

Daeng Kebe menangis sejadi-jadinya. Dia menyesali nasib yang menudunginya, tetapi juga tidak ingin kembali ke kampung dengan keadaan melarat.

“Malam ini, kamu harus mempersiapkan dirimu!” bentak Daeng Jumpa

Daeng Kebe tidak bicara apa-apa lagi, dia hanya tertunduk merenungi nasibnya. Sementara di luar rumah, Ciwang menyimak semua peristiwa yang terjadi antara ayah dan ibunya. Meski sebenarnya dia tidak ingin hadir pada kondisi seperti ini, tetapi kepalanya terlanjur muncul di balik pintu dengan kantung plastik gula-gula di tangannya. Dia masuk dengan pelan-pelan. Dia berlalu dengan biasa-biasa saja. Drama sebagaimana yang dipertontonkan ayah dan ibunya sudah menjadi hal biasa baginya. Dia pun seringkali mengalami peristiwa terpojok oleh bentakan dan pukulan ayahnya Daeng Jumpa. Dan hari ini, dia terkena imbas dari kemarahan Daeng Jumpa.

“Apa yang kamu bawa?”

Ciwang mempelihatkan kantung plastik gula-gula di tangannya yang berisi beberapa uang kertas seribuan dan koin-koin lima ratus perak.

Daeng Jumpa mengambil  kantung plastik itu, “apa-apaan ini? Kamu pikir bisa hidup dengan recehan seperti ini!!! Anak tidak tahu diuntung.” Hardiknya. “Mulai besok, kamu tidak usah menampakkan batang hidungmu di rumah ini jika tidak bisa mendapatkan uang banyak. “

Ciwang menatap ayahnya dengan amarah bercampur tangisan. Meski usianya masih sangat muda, tetapi kondisi telah membuatnya berpikir melampaui usianya dan kondisi pula yang menjeratnya pada kehidupan yang keras. Dia tidak sanggup menahan air matanya karena merasa diabaikan oleh orang tuanya dan naluri anak-anaknya membuatnya merasa terpojok. Lagi-lagi Daeng Kebe tidak bisa berbuat apa-apa. Tangisannya semakin menjadi saat melihat Ciwang berlari entah kemana meninggalkan rumah kardus mereka.

                                                                                              ***

Sejak kejadian itu Daeng Kebe resmi menjadi salah satu dari berpuluh-puluh wanita yang menjajakkan tubuhnya di jalan. Setiap malam, dia diantar Daeng Jumpa dengan becaknya mencari pelanggan yang membutuhkan tubuhnya. Ciwang juga semakin jarang memunculkan batang hidungnya di rumah karena setiap kali dia datang dengan hasil mengemis pas-pasan, maka hadiahnya adalah tamparan atau pukulan dari ayahnya. Kehidupan keluarga mereka benar-benar hancur, meski persoalan ekonomi sudah membaik. Mereka tidak perduli dengan ucapan atau cibiran orang-orang di lingkungannya tentang dia dan istrinya. Bahkan terkadang Daeng Jumpa menawarkan istrinya pada teman-teman judinya sebagai taruhan. Daeng Kebe menjalani ini awalnya terpaksa, tetapi lama-kelamaan sudah menjadi hal biasa yang tidak mesti dipersoalkan. Hidup sebagai perempuan malam, membuat mata Daeng Kebe terbuka, bahwa sebagian orang-orang yang ketika pulang kampung ke tanah kelahirannya dengan berpenampilan menarik ternyata memiliki pekerjaan seperti yang dilakoninya. “inilah yang mereka sebut, di kota uang sangat gampang dicari,” renung Daeng Kebe setelah berjumpa dengan beberapa teman-teman seprofesinya yang kebetulan sekampung dengannya.

Nama Daeng Kebe dan Daeng Jumpa, semakin populis di masyarakatnya. Perlahan-lahan mereka sudah mampu kembali menyewa sebuah kamar kost yang lebih lumayan dibanding dengan rumah kardusnya. Daeng Jumpa semakin menekuni kebiasaan judi dan minum-minuman keras. Daeng Kebe pun menjadi primadona di tempat nongkrongannya setiap malam. Dia terlihat cantik dan terawat saat ini. Ciwang telah tumbuh menjadi remaja yang semakin tidak jelas. Dia juga sesekali mengikuti kebiasaan judi dan mabuk-mabukan ayahnya. Penampilannya kusam dan tidak mau peduli dengan dirinya. Dia tumbuh dan besar di jalanan, dan segala seluk-beluk kerasnya kehidupan jalanan dilakoninya. Setiap ada perkelahian, maka Ciwanglah yang menjadi tolo’na. Kehidupan jalanan, membuatnya jauh dengan keakraban keluarganya. Dan dapat dipastikan bahwa memang tidak aka nada lagi keakraban karena yang ada hanyalah uang…uang...dan uang.

Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya adalah ambisi Daeng Jumpa dan Daeng Kebe saat ini. Tidak peduli caranya benar atau salah. Mereka juga ingin suatu saat pulang ke kampung halaman dengan memukau. Mereka ingin dikagumi karena berhasil menjalani hidup mapan di Kota. Sekarang mereka sudah mampu membuat rumah sendiri dan punya kendaraan roda dua untuk mengantar jemput Daeng Kebe. Status sosial mereka meningkat drastis karena Daeng Kebe semakin digemari. Dia telah berganti nama dengan Bella untuk menandingi popularitasnya. Tetapi Ciwang sekarang telah hilang, entah kemana rimbanya. Dari teman-teman jalanannya, tersiar kabar bahwa dia memilih merantau ke pulau Kalimantan. Sebagian lagi berbisik-bisik bahwa Ciwang terlibat kasus peredaran Narkoba.

                                                                                         ***
Setelah bertahun-tahun menjalani aktivitas dan merasakan jatuh bangun hidup di Makassar, akhirnya Daeng Kebe dan Daeng Jumpa berencana mengunjungi kerabat di kampung halamannya. Hari yang direncanakan pun tiba, dengan pakaian indah dan gaya yang menarik mereka memasuki perkampungan tempat mereka bertemu dan menikah serta dikaruniai seorang anak. Para kerabat berkumpul menantinya. Maklumlah, kampung mereka itu masih terbilang terpencil sehingga jika ada yang datang meski hanya dari Makassar, akan memberikan kebanggaan sendiri bagi keluarga. Apalagi kabar kesuksesan Daeng Jumpa dan Daeng Kebe di kampungnya sebelum mereka datang telah tersiar. Sekarang mereka sudah ada di tengah-tengah kerabatnya. Tidak lupa oleh-oleh sebagai hadiah bagi setiap keluarga yang ditemuinya. Semuanya bangga dengan keberhasilan mereka, dan jika ada yang bertanya perihal kabar Ciwang, mereka akan menjawab bahwa dia sedang menjalani aktivitas kuliahnya di salah satu perguruan tinggi ternama di Makassar.

Sejak kedatangannya, decak kagum dari kerabat dan masyarakat di sekitarnya selalu terdengar. Sekarang, Daeng Jumpa dan Daeng Kebe berencana akan mengikuti pengajian dan syukuran atas keberhasilannya di salah satu masjid dekat rumah kerabatnya. Dalam kegiatan itu, Daeng Jumpa diminta memberikan tips-tips menuju sukses. Saat kegiatan tersebut berlangsung Daeng Jumpa mengatakan bahwa, “saya seperti sekarang ini, berkat doa dan kerja keras kami. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan istrinya.”

“Kami juga berhasil menjaga Ciwang, Anak kami menjadi orang yang berguna. Sebentar lagi dia akan menyelesaikan kuliahnya….” Lanjut Daeng Jumpa meski ada nada lirih dibalik ucapannya.

Riuh tepuk tangan, mengakhiri kalimatnya. Ada binar mata tetapi miris antara Daeng Jumpa dan Daeng Kebe. Namun hanya mereka berdualah yang tahu kebenaran semuanya. Sementara kegiatan tersebut masih berlangsung, datanglah seseorang mencari Daeng Jumpa dan Daeng Kebe. Belum sempat mereka berdiri dari keramaian suasana pengajian dan syukuran, orang tersebut telah ada di hadapannya. “Perkenalkan, saya Pak Widodo….” Ucap orang tersebut sambil mengulurkan tangannya.

“Ada kepentingan apa, Anda mencariku?” balas Daeng Jumpa

“Maaf, saya terpaksa menyusul Anda ke sini karena Ciwang, anak Anda tertangkap basah menyelundupkan narkoba dari Kalimantan. Dia melawan saat dilakukan penangkapan, terpaksa kami mengeluarkan tembakan. Naasnya, anak anda tertembak di sekitr kepala dan kemungkinan sembuhnya sedikit. Kalaupun sembuh, dia akan menjadi tidak waras. Sehingga kami perlu berkomunikasi dengan orang tuanya.” Pak Widodo mencoba menjelaskan.

“Haaaaaaaaa…………” Semua warga yang hadir pada kegiatan itu, melongo dan kanget.

Daeng Jumpa dan Daeng Kebe, bagai disambar petir. Tidak bisa berbuat apa-apa dan terkulai lemas.

“Inikah yang dinamakan hebat?? Uang memang bisa dicari, tetapi masa depan anak yang hilang tidak bisa ditebus dengan uang….!” Ucap salah seorang warga yang hadir.

Daeng Jumpa dan Daeng Kebe terdiam, dan satu persatu warga meninggalkan masjid tersebut.

Makassar, 19 Maret 2012

Note: Daeng (panggilan yang akrab untuk menyapa orang-orang dari suku Makassar). Yabo’-yabo’(mencari barang-barang bekas atau memulung). Tolo’na (jagoan atau pemimpinnya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan