Rabu, 18 April 2012

Cuap-Cuap Sepintas "Potret Perempuan Dalam Media"

Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, kerana kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

 Mengapa Perempuan?

Perempuan atau wanita? Pertanyaan ini sangat identik dengan jenis kelamin yang menyerap banyak sisi-sisi feminitas kosmik. Kita memanggilnya wanita ataukah perempuan, sebenarnya bukan merupakan berdebatan yang substansial. Yang penting adalah bagaimana feminitas itu menyublim secara sempurna dalam diri perempuan (wanita) dan merealitas secara nyata dalam tindakannya. Meski banyak yang menolak dirinya disapa wanita dengan alasan kata ini identik dengan kata “betina” yang memiliki makna tidak estetik untuk memanggil perempuan. Namun banyak juga yang mengiyakan dalam tindakannya. Dan sebagian lagi merasa lebih terhormat dipanggil perempuan.


Mengapa perempuan? Karena kata ini  berawal dari kata “empu”, yang menggambarkan bahwa merekalah sang empu atau kaum yang dihormati. Istilah yang sejak ribuan tahun disakralkan dalam berbagai ritual kepercayaan dan dalam berbagai peninggalan kebudayaan. Hanya perempuanlah yang bisa disebut ibu pertiwi, dewi kesuburan, dewi kecantikan, dan macam istilah lainnya. Istilah ini mengantarkan perempuan ke tingkatan yang mulia dan memang harus dimuliakan.

Seiring perjalanan waktu, istilah ini seakan kehilangan makna dalam telikung “perang” yang terjadi antara kedua gender (laki-laki dan perempuan), sehingga menempatkan mereka dalam strata yang marginal. Terlalu riskan memang, tetapi berbagai tradisi telah membuktikan hal ini. Dalam tradisi kesukuan (masyarakat primitif), perempuan dianggap sebagai hewan peliharaan yang berfungsi sekedar untuk memenuhi desakan biologis laki-laki. Pada Tradisi kerajaan seperti di Yunani dan Romawi, hak-hak individu dan sosial perempuan ditiadakan. Tradisi keagamaan pun tak mau kalah mendistorsi makna perempuan. Taruhlah seperti, adanya praktek sati (pembakaran istri hidup-hidup bersama suaminya yang meninggal dunia) dalam adat Hindu, teori mistis Cina dalam konsep Yin dan Yang  memosisikan perempuan sebagai Yin atau kekuatan negatif di alam semesta yang terjelma pada kegelapan. Masyarakat Yahudi mengkonstruk perempuan sebagai mahkluk yang tidak lebih pahit dari kematian, mereka tidak akan sampai pada kesempurnaan karena hanya tercipta dari sebelah tulang rusuk Adam. Doktrin kepatuhan dan berdiam diri bagi perempuan dalam tradisi masyarakat Nasrani dan praktek Wa’d (pembunuhan bayi perempuan) yang dilakukan masyarakat Arab jahiliyah.

Dalam masyarakat modern, pendistorsian makna istilah perempuan juga nampak diberbagai sisi. Munculnya berbagai gerakan keperempuanan yang bias gender, membuat masyarakat latah dan gamang membicarakan hakekat perempuan merupakan salah satu penyebab distorsi tersebut. Belum lagi sederetan aksi sebagian perempuan yang dipertontonkan oleh media semakin membuat mereka lupa bahwa mereka adalah empu yang selayaknya dihormat dan menghormati dirinya sendiri.

Citra Perempuan Dalam Media

Tidak bisa dipungkiri bahwa media baik cetak maupun elektronik yang membuat kita tahu tentang kisah-kisah perempuan sukses. Dan karena media pulalah, perempuan menjadi cerdas dan kreatif. Tetapi sayangnya niat baik media dalam menyampaikan pesan-pesan positifnya  untuk kemaslahatan kaum perempuan tidak sepenuhnya tersampaikan karena adanya kepentingan para pemilik modal yang mengendalikan perwajahan dan tampilan dalam media cetak maupun media elektronik. Untuk saat sekarang, sangat sedikit media yang tetap konsisten dan kritis dalam memberikan pesan-pesan kebaikan bagi konsumennya. Terutama bagi kaum perempuan yang intensitasnya lebih banyak tampil dalam media. Meminjam istilah Naomi Wolf (seorang aktivis perempuan) dalam teori Mirror effect, bahwa saat ini media tidak lagi menampilkan apa yang seharusnya dibutuhkan oleh perempuan, justru malah sebaliknya media lebih banyak menyontek/ bercermin dari kebiasaan perempuan dalam realitasnya untuk dipertontonkan ke publik. Sebagai contoh, pada maraknya pemakaian busana muslimah. Awalnya busana ini sangat jarang digunakan, namun karena kepandaian penggunanya dalam mengatur tata letak busana yang dikenakan maka muslimah pun terlihat anggun dan rapi. Sehingga kaum perempuan banyak yang melirik busana tersbut. Kesempatan Ini dimanfaatkan oleh produsen untuk menciptakan busana muslimah dengan dalil efisiensi dan efektivitas untuk perempuan sehingga hadirlah busana muslimah yang jauh dari kesan anggun tetapi dekat dari kesan seadanya dan seronok.

Singkatnya, citra perempuan dalam media tidak membuat mereka semakin sadar akan keperempuanannya. Tetapi membuat mereka menjauh dari diri otentiknya, sangat konsumeristik, berprilaku hedonistik, dan semakin jauh dari nilai-nilai spritualitas. Dalam media, perempuan lebih banyak menjadi proferti, atau pemanis laku tidaknya produk yang mensponsori rubrik atau acara-acara dalam media. Hal ini senada yang disampaikan oleh Yasraf Amir Piliang bahwa  media menempatkan perempuan pada tiga ekonomi-politik yaitu ekonomi-politik tanda, ekonomi-politik hasrat, dan ekonomi-politik tubuh.

Pertama, ekonomi-politik tanda menjerat perempuan dalam jejaring makna yang diciptakan oleh pasar. Perempuan dalam hal ini tidak lebih dari sekedar pemberi cita rasa dari produk pasar yang mendukung media dan bisa saja diperlakukan sebebas-besasnya oleh pemilik pasar. Setelah itu jika sudah tidak dibutuhkan, maka akan diganti lagi dengan yang lebih fresh. Selain itu dalam hal ini perempuan juga selalu saja dicitrakan sebagai sosok yang sabar dalam ketertindasannya, suka mengejar harta, angkuh, dan mudah dibodohi. Kedua, ekonomi-politik hasrat memosisikan perempuan sebagai objek libido dengan keharusannya memberika senyuman manis, sikap manja, dan penampilan seksinya pada setiap produk-produk media. Ketiga, ekonomi-politik tubuh memenjarakan perempuan pada sifat konsumeristik. Keharusan bagi mereka untuk berpenampilan menarik (rambut lurus, tubuh langsing, kulit putih, dan wajah mulus) agar diterima oleh publik membuat perempuan berlomba-lomba mempercantik diri meski harus mengeluarkan biaya yang sangat banyak. Perempuan yang tidak memiliki dana untuk hal tersebut akhirnya merasa malu untuk beraktivitas ke publik dan tersisih dari dunia luar. Dari ketiga ekonomi-politik tersebut, perempuan sangat jauh dari kesan intelektual, dan hal ini diaminkan oleh aktivitas-aktivitas yang ditanyangkan oleh media eletronik dan diterbitkan oleh media cetak.

Meski kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan media, namun seharusnya media mempertahankan independensinya dari para pemilik modal yang seolah-olah mengendalikan media, karena pemilik modal ini tidak perduli terhadap kualitas acara tetapi lebih memendingkan kesan hiburannya. Sejak dari dulu, media adalah sabahat masyarakat, dan sebagai sahabat seharusnya media memberi pesan positif bukan malah sebaliknya. Semoga media dan perempuan mampu berjalan seiring untuk menjadikan perempuan lebih terperempuankan.

 Kita dilahirkan dengan dua buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita dapat mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk berupaya mengumpulkan pujian dan kritikan dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, kerana kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

 Mengapa Perempuan?

Perempuan atau wanita? Pertanyaan ini sangat identik dengan jenis kelamin yang menyerap banyak sisi-sisi feminitas kosmik. Kita memanggilnya wanita ataukah perempuan, sebenarnya bukan merupakan berdebatan yang substansial. Yang penting adalah bagaimana feminitas itu menyublim secara sempurna dalam diri perempuan (wanita) dan merealitas secara nyata dalam tindakannya. Meski banyak yang menolak dirinya disapa wanita dengan alasan kata ini identik dengan kata “betina” yang memiliki makna tidak estetik untuk memanggil perempuan. Namun banyak juga yang mengiyakan dalam tindakannya. Dan sebagian lagi merasa lebih terhormat dipanggil perempuan.

Mengapa perempuan? Karena kata ini  berawal dari kata “empu”, yang menggambarkan bahwa merekalah sang empu atau kaum yang dihormati. Istilah yang sejak ribuan tahun disakralkan dalam berbagai ritual kepercayaan dan dalam berbagai peninggalan kebudayaan. Hanya perempuanlah yang bisa disebut ibu pertiwi, dewi kesuburan, dewi kecantikan, dan macam istilah lainnya. Istilah ini mengantarkan perempuan ke tingkatan yang mulia dan memang harus dimuliakan.

Seiring perjalanan waktu, istilah ini seakan kehilangan makna dalam telikung “perang” yang terjadi antara kedua gender (laki-laki dan perempuan), sehingga menempatkan mereka dalam strata yang marginal. Terlalu riskan memang, tetapi berbagai tradisi telah membuktikan hal ini. Dalam tradisi kesukuan (masyarakat primitif), perempuan dianggap sebagai hewan peliharaan yang berfungsi sekedar untuk memenuhi desakan biologis laki-laki. Pada Tradisi kerajaan seperti di Yunani dan Romawi, hak-hak individu dan sosial perempuan ditiadakan. Tradisi keagamaan pun tak mau kalah mendistorsi makna perempuan. Taruhlah seperti, adanya praktek sati (pembakaran istri hidup-hidup bersama suaminya yang meninggal dunia) dalam adat Hindu, teori mistis Cina dalam konsep Yin dan Yang  memosisikan perempuan sebagai Yin atau kekuatan negatif di alam semesta yang terjelma pada kegelapan. Masyarakat Yahudi mengkonstruk perempuan sebagai mahkluk yang tidak lebih pahit dari kematian, mereka tidak akan sampai pada kesempurnaan karena hanya tercipta dari sebelah tulang rusuk Adam. Doktrin kepatuhan dan berdiam diri bagi perempuan dalam tradisi masyarakat Nasrani dan praktek Wa’d (pembunuhan bayi perempuan) yang dilakukan masyarakat Arab jahiliyah.

Dalam masyarakat modern, pendistorsian makna istilah perempuan juga nampak diberbagai sisi. Munculnya berbagai gerakan keperempuanan yang bias gender, membuat masyarakat latah dan gamang membicarakan hakekat perempuan merupakan salah satu penyebab distorsi tersebut. Belum lagi sederetan aksi sebagian perempuan yang dipertontonkan oleh media semakin membuat mereka lupa bahwa mereka adalah empu yang selayaknya dihormat dan menghormati dirinya sendiri.

Citra Perempuan Dalam Media

Tidak bisa dipungkiri bahwa media baik cetak maupun elektronik yang membuat kita tahu tentang kisah-kisah perempuan sukses. Dan karena media pulalah, perempuan menjadi cerdas dan kreatif. Tetapi sayangnya niat baik media dalam menyampaikan pesan-pesan positifnya  untuk kemaslahatan kaum perempuan tidak sepenuhnya tersampaikan karena adanya kepentingan para pemilik modal yang mengendalikan perwajahan dan tampilan dalam media cetak maupun media elektronik. Untuk saat sekarang, sangat sedikit media yang tetap konsisten dan kritis dalam memberikan pesan-pesan kebaikan bagi konsumennya. Terutama bagi kaum perempuan yang intensitasnya lebih banyak tampil dalam media. Meminjam istilah Naomi Wolf (seorang aktivis perempuan) dalam teori Mirror effect, bahwa saat ini media tidak lagi menampilkan apa yang seharusnya dibutuhkan oleh perempuan, justru malah sebaliknya media lebih banyak menyontek/ bercermin dari kebiasaan perempuan dalam realitasnya untuk dipertontonkan ke publik. Sebagai contoh, pada maraknya pemakaian busana muslimah. Awalnya busana ini sangat jarang digunakan, namun karena kepandaian penggunanya dalam mengatur tata letak busana yang dikenakan maka muslimah pun terlihat anggun dan rapi. Sehingga kaum perempuan banyak yang melirik busana tersbut. Kesempatan Ini dimanfaatkan oleh produsen untuk menciptakan busana muslimah dengan dalil efisiensi dan efektivitas untuk perempuan sehingga hadirlah busana muslimah yang jauh dari kesan anggun tetapi dekat dari kesan seadanya dan seronok.

Singkatnya, citra perempuan dalam media tidak membuat mereka semakin sadar akan keperempuanannya. Tetapi membuat mereka menjauh dari diri otentiknya, sangat konsumeristik, berprilaku hedonistik, dan semakin jauh dari nilai-nilai spritualitas. Dalam media, perempuan lebih banyak menjadi proferti, atau pemanis laku tidaknya produk yang mensponsori rubrik atau acara-acara dalam media. Hal ini senada yang disampaikan oleh Yasraf Amir Piliang bahwa  media menempatkan perempuan pada tiga ekonomi-politik yaitu ekonomi-politik tanda, ekonomi-politik hasrat, dan ekonomi-politik tubuh.

Pertama, ekonomi-politik tanda menjerat perempuan dalam jejaring makna yang diciptakan oleh pasar. Perempuan dalam hal ini tidak lebih dari sekedar pemberi cita rasa dari produk pasar yang mendukung media dan bisa saja diperlakukan sebebas-besasnya oleh pemilik pasar. Setelah itu jika sudah tidak dibutuhkan, maka akan diganti lagi dengan yang lebih fresh. Selain itu dalam hal ini perempuan juga selalu saja dicitrakan sebagai sosok yang sabar dalam ketertindasannya, suka mengejar harta, angkuh, dan mudah dibodohi. Kedua, ekonomi-politik hasrat memosisikan perempuan sebagai objek libido dengan keharusannya memberika senyuman manis, sikap manja, dan penampilan seksinya pada setiap produk-produk media. Ketiga, ekonomi-politik tubuh memenjarakan perempuan pada sifat konsumeristik. Keharusan bagi mereka untuk berpenampilan menarik (rambut lurus, tubuh langsing, kulit putih, dan wajah mulus) agar diterima oleh publik membuat perempuan berlomba-lomba mempercantik diri meski harus mengeluarkan biaya yang sangat banyak. Perempuan yang tidak memiliki dana untuk hal tersebut akhirnya merasa malu untuk beraktivitas ke publik dan tersisih dari dunia luar. Dari ketiga ekonomi-politik tersebut, perempuan sangat jauh dari kesan intelektual, dan hal ini diaminkan oleh aktivitas-aktivitas yang ditanyangkan oleh media eletronik dan diterbitkan oleh media cetak.

Meski kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan media, namun seharusnya media mempertahankan independensinya dari para pemilik modal yang seolah-olah mengendalikan media, karena pemilik modal ini tidak perduli terhadap kualitas acara tetapi lebih memendingkan kesan hiburannya. Sejak dari dulu, media adalah sabahat masyarakat, dan sebagai sahabat seharusnya media memberi pesan positif bukan malah sebaliknya. Semoga media dan perempuan mampu berjalan seiring untuk menjadikan perempuan lebih terperempuankan.

 Kita dilahirkan dengan dua buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita dapat mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk berupaya mengumpulkan pujian dan kritikan dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan