Rintik hujan masih mengetuk-ngetuk atap rumahku, aku pun semakin terpuruk menatapi lembaran putih di depanku. Kosong, karena tak satupun kata dapat kutulis di dalamnya. Padahal aku sudah berjanji menuliskan sebait puisi untuknya, sebagai hadiah ulang tahunnya. Aku benar-benar kesulitan mengakurkan hati dan pikiranku dalam satu barisan kalimat. Mungkin karena akhir-akhir ini aku terlalu lekat dengannya. Ataukah dirinya telah begitu lama tersimpan dalam pikiranku. Kurasa dia terlalu sempurna untuk kutulis. Tetapi harus tetap kutulis, setidaknya aku memiliki sebuah puisi atau cerita tentangnya.
Dia kunamai anonim, sebab aku benar-benar tidak tahu siapa namanya. Aku pun tidak mau mencari tahu, karena dengan menatapnya saja, aku merasa begitu banyak tahu tentangnya. Sama seperti diriku mengetahui hari kelahirannya, bukan mencari tahu tetapi hanya sekedar mendengar dari teman-teman yang akrab dengannya. Itupun secara tidak sengaja. Meski begitu, perlahan-lahan dia mekar di hatiku. Tak pernah saling menyapa, bertukar senyum, apalagi saling berkelakar. Memang aneh, tapi itulah aku dan dia. Padahal hampir setiap hari aku dan dia berpapasan, sebab kami kuliah di universitas yang sama, jurusan yang sama, tetapi kelas yang berbeda.
Teman-teman dekatku pun menyebutku gila. Kata mereka caraku mengaguminya tidak normal. Ada juga yang menyuruhku mendekatinya secara pelan-pelan, sekedar PDKT saja katanya untuk mengenal lebih jauh. Terus terang, aku tidak peduli dengan semua itu. Aku merasa nyaman dengan caraku sendiri. Mengagumi dalam diam, mencintai bersama keheningan. Indah bukan???
Sebagaimana heningnya malam saat ini, yang masih sesekali dikejutkan ketukan-ketukan rinai. Mataku sudah benar-benar tidak bisa kompromi, sebentar lagi aku ingin mengatupkannya. Biasanya saat-saat seperti inilah, kuhadirkan dia menemaniku sebelum benar-benar terlelap. Dia datang perlahan-lahan, duduk di sampingku menemani menyaksikan tarian kepulan asap teh yang diseruput hangatnya diam-diam oleh udara malam. Kami saling menatap, tidak ada yang ingin berusaha memulai pembicaraan. Semuanya hening, sampai pada detik berikutnya dia menanyakan hal yang sama saat kami berdua, “apakah sayapmu telah cukup sepasang?”
Jawabanku pun sama, “aku tidak tahu.”
Dia melemparkan senyumnya, ada nada kecewa di dalamnya.
“Ajari aku, menyempurnakan sepasang sayapku….” Pintaku.
“Aku tidak bisa mengajarimu, sebab hanya dirimulah sendiri yang tahu cara menyempurnakannya…”
Aku tertunduk, ada gumpalan bening menggantung dikelopak mataku.
“Jadi, sedikitpun kamu tidak ingin mengajariku?”. Dia mengangguk. Aku mengalah, karena kutahu dia memang selalu begitu. Meski demikian, dia melemparkan senyumnya padaku, sangat manis, ampuh manawarkan kesedihanku malam ini.
“Pikirkanlah pembicaraan kita ini, aku akan menemuimu kembali saat kau telah menyempurnakan sepasang sayapmu”, ucapnya.
Aku hanya terdiam, bergelinding dalam benakku berbagai ketakutan-ketakutan akan hilangnya dia.
“Kutahu, ini saatnya kamu istirahat dan aku pun tidak ingin berlama-lama lagi di sini….”
“Tidaaaak, kumohon kau jangan pergi dulu!”
Akh,.. sia-sia dia sudah terlanjur hilang dari pandanganku. Aku kembali mengenang sebuah peristiwa yang benar-benar membuatku jatuh, nyaris ke dasar bumi paling dalam. Saat itu, usiaku masih terlalu hijau untuk menanggung beban hidup dalam keluargaku. Bayangkan saja, aku dilahirkan dalam keluarga yang serba kekurangan. Jangankan untuk jajan dan membeli pakaian-pakaian indah, makan saja tidak cukup. Beruntung jika dalam sehari kami dapat menikmati sepiring nasi. Usiaku saat itu baru sembilan tahun, kelas 3 SD tepatnya. Aku terpaksa putus sekolah karena kekurangan biaya. Setiap subuh, aku berjalan mengelilingi gang-gang sempit di sekitar tempat tinggalku untuk memungut gelas dan botol plastik bekas. Harapannya agar botol dan gelas itu dapat terkumpul banyak agar hasil jualnya juga berbanding lurus dengan jerih payahku. Ayahku sudah lama meninggal karena hatinya telah dirusak oleh minuman beralkohol. Sementara ibuku menikah lagi dan meninggalkanku dengan seorang adik yang baru berusia empat tahun mengadu nasib sendiri. Aku kewalahan, sangat kewalahan karena aku harus mencari uang sambil mengurus adikku.
Suatu hari, ada yang menawariku untuk mencari dana tambahan di lampu merah. “Pekerjaannya sangat mudah,” katanya. Aku tinggal menyiapkan kaleng bekas, berpakaian lusuh, dan wajah yang kotor. Sangat bagus lagi jika aku mengikutsertakan adikku agar sempurna gambar derita didiriku. Tawaran itu kuterima, aku resmi menjadi peminta-minta di lampu merah. Sejak saat itu, tambahan dana sudah agak mendingan. Tetapi disinilah bencana kedua dalam hidupku. Saat asyik meminta-minta, aku lupa memerhatikan adikku yang kubiarkan beristirahat di pinggiran jalan. Semakin asyiknya mengetuk kaca-kaca mobil yang singgah, sampai-sampai aku tidak melihat adikku tergeletak karena digilas sebuah mobil sedan yang melaju kencang. Aku merasa bersalah, karena mengabaikannya. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, nyawanya terlanjur hilang. Aku telah lalai. AKU MEMBUNUH ADIKKU!!!
Setelah peristiwa itu, aku terpuruk dalam kesendirian dan rasa bersalah. Semua menjadi hitam dalam pandanganku, dan aku tidak bisa melihat jalan keluar yang tepat. Beruntung Tuhan masih perduli kepadaku, saat adikku tergeletak tidak berdaya di tengah jalan, seorang ibu menolongku mengurusi jenazah adikku sampai keperistirahatan terakhirnya. Dia kemudian mengajakku tinggal bersamanya dan menyekolahkanku kembali. Meski demikian rasa bersalah itu telah merampas ceria dan akal sehatku. Aku menjalani hidup dengan hambar, sampai aku menginjakkan kaki di bangku kuliah semuanya kujalani tanpa harapan.
Mengenangnya kembali, serasa hidup menjadi sesak. Jalan menjadi sempit oleh kubangan rindu bertabur sesal yang dalam. “Selamat tidur adikku sayang.”
***
Sejak malam itu, dia tidak pernah menjumpaiku lagi. Aku hanya bisa menatapnya dari jauh. Sosok sederhana, tidak terlalu menarik secara fisik, dan seringkali menghabiskan waktunya dengan buku-buku tebal itu semakin berjarak denganku. Harus aku akui, aku memang kalah dalam satu hal. Gagal mengisi jalan yang terbentang di hadapanku. Kuliahku diujung tanduk, padahal seharusnya aku menyadari bahwa inilah satu-satunya jalan untukku keluar dari keterpurukan dan bebas menentukan jalan hidup sendiri, bebas dari cerita-cerita orang-orang yang selalu menghinakan wong cilik sepertiku. Hanya ada dua pilihan, aku membiarkan diriku terpenjara dalam bayang-bayang kemiskinan, ataukah menyelesaikan kuliah ini sebagai hadiah untuknya yang telah menyekolahkanku dan sebagai tangga untukku tepaki ke jalan yang lebih baik.
“Huuuuuuuhhhh….”, kuhembuskan nafas sekuat tenagaku.
Sosok itu melintas dihadapanku. Tetapi rasanya aku tidak memilikinya lagi, perasaan bahagia pun tidak berbunga dihatiku, sebagaimana mekarnya dia di waktu-waktu sebelumnya. Aku benci semua ini.
“Tahukah kamu, apa kejahatan yang paling kejam yang pernah kamu lakukan?” tiba-tiba suaranya mengeluarkan tanya.
Aku terkejut, “tiii…tiiidak!”
“Itulah letak masalahnya, seharusnya kamu menyadari bahwa hidup ini harus dijalani sempurna…”
“Aku sudah melakukannya. Lihatlah diriku saat ini.”
“Apa kamu yakin?”
“Iya.”
“Jika demikian, jawablah pertanyaanku tadi!”
Aku bingung, serasa semua memoriku terputar kembali. Aku sangat takut, sungguh ketakutan. Seakan dia adalah ancaman bagiku.
“Ayo jawab!” nada suaranya pelan namun tegas.
“A…a…aku telah membunuh adikku!!! Aku seorang pembunuh!” jawabku berderai air mata.
“Tidak! Bukan itu jawabannya.”
“Lantas apa?”
Dia menatapku tajam, “kejahatan terbesar yang pernah kamu lakukan adalah membohongi dirimu sendiri. Kamu bisa melakukan apa saja, tetapi selalu kau bunuh dengan bisikan-bisikan masa lalu.”
“Jangan asal bicara, Kamu!”
“Ini kenyataannya. Amarah, kebencian, rasa bersalah itu hanya akan membuatmu lemah. Tidak bisa berpikiran jauh melampaui kemampuanmu yang kau anggap pas-pasan. Masih ada kesempatan untuk memulai, anggap saja semua yang terjadi dalam hidupmu adalah sebuah spasi untukmu berhenti dan merenung sejenak sebelum kembali melangkah.”
“Aku tidak mengerti.”
“Dasar gadis bodoh!”
“Tolong jelaskan padaku!”
“Berpikirlah, cepat atau lambat waktu dan kondisi akan membuatmu mengerti.”
“Tolonglah….!” Ucapku sambil berdiri mengejarnya yang berlalu dihadapanku.
Tetapi sejenakS aku merasa sangat malu, sebab sedari tadi ternyata aku hanya sibuk dengan lamunanku, namun sekarang aku telah berdiri di hadapannya. Menghalangi jalannya agar tidak menginggalkanku sebelum menjelaskan maksud dari kata-katanya tadi.
“Apa anda berbicara denganku?” tanyanya kebingungan.
Aku gugup
“Apa kita pernah kenal sebelumnya?”
Lagi-lagi aku tidak bisa menjawab. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan memandangku dengan aneh kemudian benar-benar berlalu dari hadapanku. Kakiku mendadak lemas, aku ingin jatuh, bermimpi, dan tidak ingin bangun lagi. Tetapi aku kembali teringat dengan sepasang sayap yang ditanyakannya setiap kali dia hadir dalam lamunanku. “Aaaaa…haaaaa…. Aku tahu sekarang, cara yang paling tepat menyempurnakan sayapku adalah menyelesaikan kuliah, meraih gelar sarjana, selanjutnya aku akan terbang kemanapun aku mau.”
Aku tersenyum-senyum sendiri dan berlari-lari kecil, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
***
Kembali rintik hujan membangunkanku. Kurasa dia datang bersama hujan, “Mana puisi yang kau janjikan untukku?” pintanya.
Aku baru tersadar bahwa ini adalah hari ulang tahunnya.
Selamat ulang tahun, Anonim, bisikku dalam hati. Aku tidak bisa menghadiahkan sebuah puisi untukmu . Karena aku butuh spasi untuk menerjemahkan dirimu dan diriku sebelum menulisnya. Setelah jeda ini, semuanya akan terwujud, jangankan sebuah puisi, seribu cerita pun akan kutulis untukmu.
Makassar, 17 Maret 2012 (untuk malaikat-malaikat kecilku di SR Cakrawala, "Keep your spirit my angels")

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan