Rabu, 18 April 2012

Sekuntum Edelweis dan Lelaki Di Suatu Sore

Aku menyukai keindahan, itu wajar-wajar saja. Siapa yang tidak suka dengan bebungaan yang membentang luas di hadapan atau suara gulungan ombak yang berkejaran. Kau sukakan? Aku pun memujanya. Sama seperti kecintaanku pada bunga keabadian, edelweis. Entah mengapa aku begitu menyukainya, sampai- sampai setiap ada kabar seseorang akan menggapai ketinggian puncak tempat edelweis berada, aku pun berusaha menitip sekuntum saja untuk dipetik pulang. Hasilnya, bunga itu menumpuk dan mengering di beberapa bagian kamarku. Awal kecintaanku pada bunga ini hadir bersaman dengan bermukimnya seseorang di puncak hatiku di suatu sore. Dia datang menawari kerinduan yang memalung di hatinya dengan sekuntum bunga edelweis. “Kutawari engkau segunung keabadian pada rindu yang kutitipkan untukmu,” katanya. Karena begitu tertarik pada kuntuman bunga di tangannya dan sedikit terpesona pada ketulusannya, kudekap kerinduan itu. Persoalan rasa, biarlah nanti kusemai pada kuntuman edelwais pemberiannya.


Kuntuman bunga pun, kutata apik dengan pot berwarna merah muda. Biar lebih indah dan terkesan romantis, batinku. Hampir setiap hari kubersihkan debu-debu yang bertengger di kelopaknya, agar cinta dan kerinduan yang bersemayam padanya tidak kabur dalam pandanganku. Hasilnya, kurasakan kecerahan hari-hariku ditemani kuntuman tersebut. Dirinya kurasai, setiap kali mata tertuju padanya. Tidak bisa di pungkiri, aku menyukainya. Tetapi aku kadang tidak bisa membedakan rasaku dan kerinduanku, apakah tulus untuknya? Ataukah aku hanya jatuh cinta pada kuntuman itu?

Kadang muncul tanya dalam pikirku, apa yang membuatmu begitu lekat dengannya? Dia hanyalah potongan-potongan kecil bebungaan tanpa warna. Lambat-laun mengering, dan menyisakan onggokan gugur satu persatu. Benar juga, batinku. Tetapi mengapa bunga ini dijadikan simbol keabadian cinta? Lambang kesetiaan rasa? Lanjutnya. Aku pun tidak tahu! Bukankah engkau yang begitu mengaguminya? Seharusnya jawabnya telah engkau simpan. Coba tanyai dirimu, dimana dirinya sekarang saat kuntuman itu melayu, dan dia sama sekali tidak peduli akan hal itu. Bukankah seharusnya, dia kerap kali datang menanyai dirimu bukan malah menitipkan onggokan kering yang baunya nyaris seperti bangkai. Pikiranku mengambil kendali.

Perselisihan batin dan pikirku, menjadi kecamuk yang meresahkan. Dia memang terlalu misterius untuk kusandingkan dengan bunga edelweis. Dia asing meski begitu dekat dalam bentangan waktu. Tak pernah kutahu apa yang dia lakukan, apa yang diinginkannya, bahkan warna kesukaannya saja tak kuketahui jelas. Tetapi edelwais itu, akh….tiap hari aku melihat perubahan padanya. Kudapati hijaunya, kuresapi kuncupnya, kekecupi mekarnya, dan kusimak berubahnya menjadi kering. Sampai pada pot merah muda yang terbuat dari kayu lunak tempatnya kusemai pun, kutau secara detail jika ada seekor rayap saya menggerogotinya. Tetapi lelaki itu, jauh dalam dekatnya dia di pikirku.

Aku terkadang ragu pada dirinya dan tentang setumpuk rindu yang dia dititipkan untukku. Takut, jika rindu itu telah dipupusnya sedikit demi sedikit oleh kediaman dan keacuhanku pada dirinya. Aku juga merasa, dia telah mengetahui bahwa dirinya kubanding-bandingkan dengan kuntuman edelweis pemberiannya. Hal ini kuketahui saat disuatu sore dan langit rinai tampaknya, dia mengajakku menuju ke suatu persimpangan. Setibanya di sana, dia menanyaiku akan memilih jalan yang mana? Jalan yang lurus itu, ataukah jalan yang menikung ke kanan. Aku terdiam, heran pada cara dan pertanyaannya. Dia kembali mengulangi pertanyaannya, sambil menatapku sayu. Ini untuk pertama kalinya, kudapati tatapannya begitu teduh. Aku pun terlihat jelas dalam tatapan itu merangkak tidak berdaya. Lalu kujawab tanya itu, dengan mengarahkan jari telunjukku pada jalan yang menikung ke kanan. Kudapati senyumnya pada jawabku. Tetapi senyum itu tidak sesegar biasanya. Lalu dia pun meraih ranting kecil yang berserakan di sekitar kami, dengan ranting itu dia melukiskan dua bentuk pada sebidang tanah dekat pijakannya. Bentuk itu menyerupai sebatang rumput, dan satunya lagi sebatang pohon yang begitu rimbun. “Kau menyukai yang mana?” Tanyanya memecah lamunan dan kebingunganku. Aku dengan tiba-tiba menunjuk pohon yang rimbun. Dia mengangguk, “baiklah, jika itu pilihanmu.” Ucapnya lalu mengajakku lagi lebih menepi di bawah sebuah pohon rindang dan langit yang mulai dihiasi mega merah. Kami menghabiskan hari di bawah pohon itu dengan seribu satu cerita yang sama sekali tidak memberikan titik terang mengapa dia menanyaiku seperti itu.

                                                                                                 ***
Masih pada suatu sore, dia datang saat aku lagi asyik memanjakan kuntuman Edelweis. “Kau masih menyimpannya?” tanyanya, diikuti dengan tatapan matanya yang tertuju pada benda di genggamanku. Aku mengangguk, “inikan pemberianmu….” Dia menatapi satu persatu tumpukan edelweis yang mulai mengering di beberapa bagian kamarku, lalu menatapku lagi seolah-olah melayangkan tanya, lalu yang lainnya bagaimana? “Aku tidak punya waktu mengurusi yang lain.” Tegasku untuk menebis keingintahuannya.

“Kemarilah, aku punya sebuah cerita untukmu.” Dia mengajakku, mendekatinya yang sedang duduk di beranda. Aku mengikuti ajakannya dan mulailah dia bercerita tanpa basa-basi. Yah…begitulah dia, “Aku memiliki seorang kawan yang sekarang berada jauh di perantauan. Awalnya dia sama sepertiku, seorang pemuda miskin yang mengadu keberuntungan di kota, kuliah sambil bekerja. Tetapi akhirnya dia mengalah pada kehidupannya, dan memilih merantau ke negeri seberang untuk memperbaiki nasib. Aku menyukai dia, sungguh. Yang kusaluti darinya, bahwa dia adalah pemuda yang tangguh memperjuangkan kerinduannya. Dulu, dia bermaksud menikahi anak majikannya yang telah dia kenal begitu lama. Namun majikannya itu tidak setuju karena status sosialnya. Akhirnya dia memutuskan membawa gadis ini bersamanya mengadu nasib ke negeri seberang. Terakhir kabarnya, mereka telah memiliki gadis kecil yang cantik dan hidupnya sudah mapan. Aku menyaluti keberaniannya, dia berhasil membuktikan dirinya seorang laki-laki.” Dia mengakhiri ceritanya dengan hembusan napas yang begitu berat.

Aku tidak mengerti maksudnya bercerita demikian, namun aku pun menahan diri untuk bertanya. Dia kemudian meraih kuntumuan edelweis di tanganku, lalu menatapku. “Mengapa engkau memilih jalan yang menikung ke kanan? Mengapa kau lebih suka pohon yang begitu rimbun? Kau menyakitiku dengan pilihan itu!” Katanya tiba-tiba. Aku semakin bingung dibuatnya. “Tahukah kamu? Jalan menikung itu menuju ke suatu puncak dimana edelweis bertebaran begitu banyak. Mengapa kau lebih suka jalan itu? Padahal memilih jalan lurus akan mengantarkanmu pada sebuah rumah kecil yang sengaja kubuat untukmu.” Dia tampak sedih. Aku bisa menangkap kesedihan itu dari suaranya yang tertahan.

“Maaf, aku sama sekali tidak tahu semua itu,” ucapku.

“Dan pohon rimbun itu, aku tidak bisa seperti dia. Aku hanyalah rumput kecil yang berusaha bertahan hidup dari pijakan-pijakan manusia yang kadang tidak mempertimbangkan keberadaanku. Seharusnya, kau menemaniku bertahan hidup seperti suburnya rumpu-rumput kecil di halaman rumahmu. Tetapi sudahlah, aku tahu engkau begitu mencintai kuntuman edelweis, dan pilihanmu benar. Edelwais memang mampu tumbuh besar menyamai pohon rimbun yang kau tunjuk. Kita berbeda dalam banyak hal.” Ucapnya pelan.

“Apa maksud dari semua ini? Bukankah engkau sendiri yang menitipkan cinta dan kerinduanmu pada kuntuman bunga itu?” Selaku, sambil menunjuk kuntuman yang masih digenggamnya.

“Aku tidak ingin mengusik kecintaanmu pada keindahan ini, kita punya cara dan jalan masing-masing dalam memaknai hidup. Jadi biarlah kita menjalaninya sendiri-sendiri juga. Inilah keputusan yang paling buruk dalam hidupku, dan membuatku semakin malu pada kawan yang kuceritakan tadi. Tetapi terpaksa harus kupilih. Aku memang bukan dia, aku sadari itu.” Dia mengembalikan edelwais berpot merah muda ke tanganku sambil bersiap berlalu. “Selamat tinggal, palung kerinduanku….”
                                                                                        ***
Aku menyukai keindahan, itu wajar-wajar saja. Siapa yang tidak suka dengan bebungaan yang membentang luas di hadapan atau suara gulungan ombak yang berkejaran. Kau sukakan? Aku pun memujanya. Tetapi sekarang aku tidak percaya pada bunga keabadian, edelweis. Bahkan tidak menyukainya. Engkau tahukan, mengapa aku tidak menyukainya? Awal semua itu hadir bersaaman dengan berlalunya seseorang di puncak hatiku pada suatu sore. Dia datang menegaskan arti kerinduannya yang bertudung ragu dengan menggapai sekuntum bunga edelweis dari tanganku.... Hanya mampu menggapai yang ada di genggamanku. “Kutawari engkau segunung keabadian pada rindu yang kutitipkan untukmu,” katanya di suatu senja. Sayangnya, aku tidak lagi tertarik pada kuntumuan edelweis di tangannya, karena bunga itu telah layu dan mengering.

Edelweis hanyalah bunga biasa, tak mampu menahan berlalunya dia dariku. Apalagi menampung makna keabadian cinta!

Malino/Makassar, 7/ 14 April 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan