Rabu, 18 April 2012

Daeng Kebe, Daeng Jumpa, Dan Bintang Jatuh


Bella atau Daeng Kebe, begitulah dia biasanya akrab disapa orang-orang di sekitar tempat tinggalnya. Dia berasal dari salah satu daerah kecil di bagian selatan kota Makassar. Sebagaimana kebanyakan orang, anggapan tentang indahnya kota metropolitan dan cita-cita hidup nyaman di kota membuatnnya sekeluarga berpindah domisili. Meski awalnya ditentang oleh Daeng Jumpa, namun kebulatan tekad Daeng Kebe meluluhkan hatinya. Sebagai bekal untuk bertahan hidup sementara, maka sebidang tanah warisan orang tuanya dan seekor sapi peliharaan terjual. “Sebagai ongkos dan modal,” katanya. Alasan lain kepindahannya karena kagum melihat orang-orang sekampungnya yang telah lama hidup di kota, pulang ke kampung pada waktu-waktu tertentu dengan penampilan menarik. Berbeda dengannya yang berkulit hitam dan bau matahari selalu membayanginya meskipun sebenarnya dia cantik. Mengingat usianya yang baru sekitar 18 tahun, maka dia pun ingin seperti teman-temannya hidup nyaman di kota dan mendapat pujian karena penampilan yang terawat dan uang yang banyak.

SPASI



Rintik hujan masih mengetuk-ngetuk atap rumahku, aku pun semakin terpuruk menatapi lembaran putih di depanku. Kosong, karena tak satupun kata dapat kutulis di dalamnya. Padahal aku sudah berjanji menuliskan sebait puisi untuknya, sebagai hadiah ulang tahunnya. Aku benar-benar kesulitan mengakurkan hati dan pikiranku dalam satu barisan kalimat. Mungkin karena akhir-akhir ini aku terlalu lekat dengannya. Ataukah dirinya telah begitu lama tersimpan dalam pikiranku. Kurasa dia terlalu sempurna untuk kutulis. Tetapi harus tetap kutulis, setidaknya aku memiliki sebuah puisi atau cerita tentangnya.

           Dia kunamai anonim, sebab aku benar-benar tidak tahu siapa namanya. Aku pun tidak mau mencari tahu, karena dengan menatapnya saja, aku merasa begitu banyak tahu tentangnya. Sama seperti diriku mengetahui hari kelahirannya, bukan mencari tahu tetapi hanya sekedar mendengar dari teman-teman yang akrab dengannya. Itupun secara tidak sengaja. Meski begitu, perlahan-lahan dia mekar di hatiku. Tak pernah saling menyapa, bertukar senyum, apalagi saling berkelakar. Memang aneh, tapi itulah aku dan dia. Padahal hampir setiap hari aku dan dia berpapasan, sebab kami kuliah di universitas yang sama, jurusan yang sama, tetapi kelas yang berbeda.

Cuap-Cuap Sepintas "Potret Perempuan Dalam Media"

Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, kerana kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

 Mengapa Perempuan?

Perempuan atau wanita? Pertanyaan ini sangat identik dengan jenis kelamin yang menyerap banyak sisi-sisi feminitas kosmik. Kita memanggilnya wanita ataukah perempuan, sebenarnya bukan merupakan berdebatan yang substansial. Yang penting adalah bagaimana feminitas itu menyublim secara sempurna dalam diri perempuan (wanita) dan merealitas secara nyata dalam tindakannya. Meski banyak yang menolak dirinya disapa wanita dengan alasan kata ini identik dengan kata “betina” yang memiliki makna tidak estetik untuk memanggil perempuan. Namun banyak juga yang mengiyakan dalam tindakannya. Dan sebagian lagi merasa lebih terhormat dipanggil perempuan.

Rabu, 07 Maret 2012

Epos Perempuan Bugis Makassar Yang Hampir Dilupakan (Curhatku Menyambut Hari Perempuan Sedunia)

Kembali melihat awal abad 17 sampai abad 18 di Eropa saat terjadi revolusi pencerahan di Belanda, revolusi industri di Perancis, dan revolusi sosial-politik di Amerika Serikat, maka bermunculanlah sekelompok perempuan membawa isu-isu gender dan feminisme. Motivasi gerakannya adalah adanya ketidakadilan gender, menuntut persamaan hak laki-laki dan perempuan, serta penegasan indentitas kaum perempuan, khususnya di Eropa. Berlanjut pada abad 19 dengan corak dekonstruksinya pada wacana gender dan feminisme, sampai sekarang wacana tersebut masih sering diperbincangkan diberbagai daerah termasuk Indonesia. Pun pada masyarakat Bugis-Makassar.

Menjaring Pelangi


Pekat
spektrum warna pun tak terbiaskan
Bentuk melebur dalam gelap
Dan mulailah kita
Meraba jalan dengan sedikit harapan akan terang
Dengan bisikan hati yang juga mengabur
Kita menerka tanda
Yang mungkin memberi ruang
Atau menawarkan jeda pada sebuah perjalanan panjang

Selasa, 28 Februari 2012

Just For My Mother

Dan disinilah kita membagi cerita
Diantara senyapsenyap tangis
Yang kau simpan rapat di sudut rautmu
Memekarkan senyum
Untuk kukecup manisnya

Dan tempat inilah pengumpul peristiwa
Saat duduk berdua
Bersua membagi cinta
Menyelami dalamnya tatapmu
Meneguk cawan kasih
Yang selau kau bagi tanpa jeda