Selasa, 28 Februari 2012

Just For My Mother

Dan disinilah kita membagi cerita
Diantara senyapsenyap tangis
Yang kau simpan rapat di sudut rautmu
Memekarkan senyum
Untuk kukecup manisnya

Dan tempat inilah pengumpul peristiwa
Saat duduk berdua
Bersua membagi cinta
Menyelami dalamnya tatapmu
Meneguk cawan kasih
Yang selau kau bagi tanpa jeda


Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang wajah itu. Yang kuingat hanya sederhananya dan gurat tua di wajahnya. Bahkan melukiskannya secara sempurna, nyaris buram dalam ingatanku. Mungkin karena saat dulu, dia pergi terlalu dini dan aku pun belum sempat memahatnya, sempurna di benakku. Aku hanya bias, mengumpulkan cerita demi cerita tentangnya dari omongan orang akan keindahan dirinya dalam jilid ingatanku. Satu hal yang selalu terlintas menemani perjalanan dewasaku adalah percakapan aku dengannya. suatu sore di tengah sungai saat aku dan dia bersama-sama mengambil air yang ada di tengah-tengah sungai, di desa kelahirannya.

Senja itu, angin sejuk bertiup dari area persawahan di sepanjang sungai. Sejuk, sesejuk hatiku bersamanya. Dia berkisah tentang masa lalunya dan perjuangan hidup yang dulu pernah dilewatinya. Sambil sebelah tangannya menimba air dari sumur serapan sungai untuk dimasukkan ke dalam ember, sebelah tangannya lagi menjalin peristiwa yang dihaturkan mulutnya. “Aku mungkin tidak akan meninggalkan apa-apa untukmu, Anakku. Yang bisa kulakukan hanyalah menyekolahkanmu sebisaku. Itu pun hanya sebatas SMU, karena kemampuanku hanya sampai disitu. Maafkan aku, karena tak mewarisimu apa-apa kelak. Aku berharap ilmu yang kau dapatkan di bangku sekolah menjadi peninggalan berharga dariku untuk masa depanmu.” Ucapnya pelan.  Kujawab hanya dengan satu senyuman. Waktu itu aku masih terlalu muda untuk memikirkan gambaran hidup yang akan kulalui. “Kelak, engkau akan merasai hidup menjadi remaja, dewasa, dan digelari ibu. Aku tidak mampu menerka apa yang akan terjadi setelah ini. Namun aku tetap berharap dapat menyaksikanmu tumbuh dewasa dan menimang cucu darimu. Dan jika tuhan berkehendak lain, maka ingatlah aku jika masa itu telah tiba.” Aku terdiam, dalam benakku berkejaran ribuan tanda anya yang menggelitik jiwa mudaku. Aku tidak mengerti, Ibu…. Meski kutau engkau sangat merisaukanku dan saudara-saudaraku. Empat orang anak kecil yang terlahir dari keluarga sederhana. Tetapi aku masih terlalu hijau, Ibu.

Memunguti ranting-ranting patah
Mengering oleh jalinan peristiwa
Yang memburu waktu
Aku bukan lagi rumput hijau
Yang hanya terbiasa diam
Saat matahari terlalu garang membakar
Dan dirimu
Bagai rinai hujan
Perlahan-lahan
Melepas dahagaku

Walau aliran air begitu tenang dan udara senja sangat nyaman, namun hatiku beriak. Kupunguti beberapa batu kerikil dari balik genangan air sungai dan kulemparkan kembali satu persatu ke tengah air membentuk percikan acak. Semuanya sudah berubah, sumur serapan itu kini telah berganti tumpukan pasir. Pun dengan dia yang 14 tahun lalu bercerita kepadaku. Sekarang hanya ada keresahan-keresahan yang entah akan kubagi pada siapa. Aku tidak terbiasa tanpanya dan kehampaan terus menggenapi hidupku selama bertahun-tahun. Belajar untuk menyelesaikan masalah sendiri, menebalkan hatiku. Bahkan membuat sebagian hidup menjadi kaku. Satu-satunya sosok yang kuharapkan hadir hanyalah dirimu untuk mencairkan kebekuan hati. Dan lamat-lamat suaramu menggema, matahari tidak akan mengadu sinarnya sendiri. “kau benar, Ibu!” timpalku
Cerita senja itu, kembali tergiang di kepalaku. Aku berusaha memaknainya satu persatu. Ternyata benar, warisan berharga ibuku kini kurasakan manfaatnya. Seandainya saat ini dia masih bersama kami, kurangkai berjuta senyum untuk kukalungkan di lehernya. Kami semua baik-baik saja sekarang, Ibu. Berkatmu dan cintamu, adikku yang dulu baru seminggu masuk SD saat kau pergi, kini telah kuliah semester 6. Ayah pun masih setia berteman bayangmu dalam sendirinya. We love You Mom….

Di matamu mama ada bintang
Gemerlap bila kupandang
Di matamu mama ada kasih sayang
Yang selalu bersinar terang

Makassar, 12 September 2011 (Perjalanan pulangmu, Enrekang, 12 september 1997)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan