Kamis, 22 Juli 2010

Sayap-sayap Jiwa

Sayap-sayap putih
Melekatlah di tubuh ini
Terbangkan aku yang lelah dan lemah
Antar raga merapuh, hirup cakrawala
Puaskan jiwa bercanda dengan awan
Pertemukan aku dengan-Nya di atas sana
Biar bibir leluasa mengadu dan mengeluh
Dan tubuh dapat bermanja dipangkuan-Nya, andai bisa

Jemputlah aku di perempatan jalan
Sadarku terlalu lemah mencari arah
Hati meragu dirundung duka
Mataku gelap
Bimbing aku menuju-Nya
Ku pasrah
Dalam kerdilnya jiwa


Bulukumba, 23 Juli 2010
"dalam lelahku, hanya ini yang terpikirkan.....Maaf jika aku terlalu banyak mengeluh"

Belajar Dari Cerita Pohon (cerita lawas)

"Hati adalah rahasia keindahan manusia karena di dalamnya ada keberkahan, ada perhiasan dan ada ketenangan bagi jiwa. keberkahan tumbuh dari akhlak yang mulia. perhiasan muncul dari pemikiran yang cantik sedang ketenangan muncul dari kepercayaan dan keyakinan. Dan tidak ada kecantikan bagi jiwa manusia, kecuali akhlak, pemikiran, dan keutamaan kepercayaan." (Musthafa Shadiq Ar-Rafi'ie)

Pohon selalu punya dua cerita yaitu cerita daun dan cerita kulit
coba kamu perhatikan, daunan senantiasa melakonkan ritme kehidupan dimana setiap hari puluhan dari mereka akan gugur dan berganti tunas baru. Demikian halnya dengan cerita tentang kulit. Awal kehadirannya, dia begitu halus, lunak dan segar, tetapi lama-kelamaan usia mengantarkannya pada batas, dimana dia harus berhenti berkembang dan akhirnya mengelupas dari pohonnya. Jika daun dan kulit sudah masanya pergi! Maka apalagi yang tersisa dari cerita sebuah pohon, selain asap bekas bakarannya atau kenangan akan sebuah pohon yang memberikan buah yang manis bagi para musafir. Tetapi bisa juga menyisakan kekesalan bagi pemiliknya, karena ternyata pohon tersebut menyembunyikan banyak benalu. Meski sepintas, terlihat rindang dan hijau namun membinasakan pohon-pohon yang tumbuh disekitarnya. Dalam posisi yang demikian, cerita sebuah pohon akan menjadi kosong, padahal semestinya kepergiannya menyisakan romansa indah.

Lantas bagaimana dengan manusia? Cerita pohon ini dapat menjadi satu perumpamaan yang baik bagi manusia yang terlalu memuja keindahan fisiknya dan lupa pada keindahan rohaninya padahal keindahan fisik (empiris) itu gak kekal. Lihat saja wajah yang dulunya halus, mulus karena setiap hari dirawat dengan berbagai produk kosmetik, toh akhirnya tidak bisa lari dari "keriput" kecuali jika pemiliknya mati muda. Artinya bagaimana pun manusia berusaha lari dari kejaran waktu, usia pasti akan membawa kita pada sebuah kenyataan dimana kita akan mendapati sosok kita "tua, reot, renta, keriput, dll". Lalu bagaimana dengan keindahan non fisik (rasional)? Mampukah waktu merubahnya? Jawabanya pasti "iya" waktu juga akan merubahnya. Tetapi tidak akan sama dengan perubahan yang dialami oleh keindahan empiris. Waktu akan mengantarkan keindahan rasional pada sebuah kematangan diri! Salah satu buktinya, "kesabaran, kelembutan, kecerdasan, dan kualitas keimanan" yang merupakan manifestasi dari keindahan rasional. menurut kamu akan terkikis seiring perjalanan waktu? nggak kan! Malah waktulah yang membukakan ruang baginya untuk berproses dan berbenah diri menuju pribadi yang matang.

Salahkah manusia yang memiliki wujud keindahan empiris? Padahal itu juga merupakan anugerah dari Tuhan! Jawabannya pasti nggak juga! Tetapi meski itu juga adalah anugerah dari Tuhan, terkadang anugerah inilah yang menjauhkan manusia pada DIA sebagai sumber segala keindahan. Karena kesibukannya mengurus diri sendiri. Padahal keindahan empiris, sebenarnya adalah ujian dari-Nya sekaligus anugerah yang harus disambut dengan lafaz syukur yang terintegrasikan dalam perbuatan. Memiliki keindahan empiris bukanlah kesalahan dan alangkah baiknya jika keindahan ini dipadukan dengan keindahan rasional. Atau setidaknya kita belajar mencari jalan ke sana. Ingat ya... jika manusia mati, dia hanya meninggalkan "nama" serta kenangan yang menyertainya. Harum, tidaknya "nama" itu bergantung pada perilaku si pemilik nama, semasa hidupnya!!!!

Mari sama-sama belajar..........!!!!!!!!

Rabu, 07 Juli 2010

Kata Mati

Bernapas, terhirup kata
Berkata memilih kata
Mencari dalang pun dengan kata
Rindu yang kau kirimkan juga sebait kata
Derita yang terpendam adalah kata
Pun dendam berupa kata

Kata menampakkan wajah di mana-mana
Ibah yang tersembunyi di sorot mata bening adalah kata
Tangis di kolong-kolong jembatan isyarat kata
Kebenaran yang terucap butuh kata
Bahkan berbohong pun butuh kata

Kata melayang-layang, menyelimuti
Kata, senjata menyeramkan saban hari
Kata terlalu sesak ditimbuni janji
Di negeri menggigil ini
Kata telah mati....


Makassar, 1 Juli 2010
Terinspirasi pada Bang Arul, suatu ketika saat nongkrong di PK5 ("Aku semakin takut dengan kata-kata." Katanya)

Elegi Rumput Kecil

Mari merangkai butiran air mata
Menjadi kepingan logam tuk menebus sekaleng beras
Mari menampung tetesan keringat
Menjadi setitik bening pelepas dahaga si bungsu yang kehabisan susu
Mari menegakkan punggung lelahmu
Tuk menyanggah gubuk kardus yang digerogoti tikus
Mari menata rangka-rangka kurus
Tuk menggapai puncak mimpi yang diselimuti dingin
Mari senantiasa tertawa
Tuk menghidupkan hari yang setengah mati

Mari menatap awan berarak
Tuk melihat kesempurnaan ilahih yang dilukisnya
Mari menafakkuri malam
Tuk melepas semua lara yang menggurat wajah
Mari meraih bintang
Mari menjemput purnama
Sinarilah jalanmu denganya
Agar suatu hari
Engkau menoreh kisah abadi
Di dada mereka
Si pemotong rumput kecil

Makassar, 04 Juli 2010
terinspirasi dari "Daeng S" yang berdomisili dekat pondokanku.......setiap hari mengais sampah-sampah tuk dijadikan rupiah....

Kamis, 06 Mei 2010

Puisi Untuk Oemar Bakri

Aku yang terkesima memandangi sosok renta dengan rambut tersisir rapi
Mengajarkan angka-angka yang melilit
Membincang tentang moral yang terjepit
Membaca sajak-sajak kemanusiaan yang mulai terapit
Perlahan, kening tak lagi berkerut
Dan senyum itu, memberi hangat di beranda jiwa
Sederhanamu, memahat kehalusan sikap yang tak lagi kutemui

Sorot mata cerlang, membekas di sudut-sudut hati
Menempel pada papan tulis dan kapur putih yang mengukir barisan pengetahuan
Dan bangku-bangku kayu, sama sekali tak retak sebab kata yang kau adu
Mengirimkan sepoi ditandusnya pikiran
Dinding-dinding tripleks tetap putih, hitam enggan bertandang apalagi memudarkannya

Jika sekarang masih tetap ada
Sepeda ontel, membawa sosokmu ke sini
Akan kukabarkan:
"ruangan semakin rapi, lantai berubin putih, tak ada kapur dan papan tulis kayu."
Akan kubisikkan, "Jangan kaget!"
Sebab otak semakin kosong
Pendidik tak sehalus budimu
Kepintaran terpenjara di terali bilangan
Potensi terkubur dalam standar angka-angka
Hingga generasi bangsaku perlahan mati
Terpaksa kalah dan penanya patah

Makassar, 1 Mei 2010

Balada Buruh Harian

Apalah daya si kecil ini
Hanya memiliki otot, tidak otak
Memeras keringat sepanjang hari
Mengharap upah, agar perut bisa terisi

Aku hanyalah buruh kecil, di pabrik yang besar
Sekolahku tak cukup untuk memakai dasi
Nyaliku sebatas gesekan mesin-mesin
Anakku empat, kecil-kecil
Mereka butuh makan dan uang sekolah

Istriku mengandung delapan setengah bulan
Butuh biaya persalinan dan gizi cukup
Rumahku sempit, atapnya bocor-bocor
Itu pun sebentar lagi tergadai, sebab utangku mulai menumpuk

Kebutuhan hidup tambah menjepit
Dan tubuhku semakin ringkih
Anak-anakku harus makan dan sekolah!
Biar kelak
Nasib, tak kuwariskan
Padanya

Makassar, menjelang May Day, 30 April 2010