Aku yang terkesima memandangi sosok renta dengan rambut tersisir rapi
Mengajarkan angka-angka yang melilit
Membincang tentang moral yang terjepit
Membaca sajak-sajak kemanusiaan yang mulai terapit
Perlahan, kening tak lagi berkerut
Dan senyum itu, memberi hangat di beranda jiwa
Sederhanamu, memahat kehalusan sikap yang tak lagi kutemui
Sorot mata cerlang, membekas di sudut-sudut hati
Menempel pada papan tulis dan kapur putih yang mengukir barisan pengetahuan
Dan bangku-bangku kayu, sama sekali tak retak sebab kata yang kau adu
Mengirimkan sepoi ditandusnya pikiran
Dinding-dinding tripleks tetap putih, hitam enggan bertandang apalagi memudarkannya
Jika sekarang masih tetap ada
Sepeda ontel, membawa sosokmu ke sini
Akan kukabarkan:
"ruangan semakin rapi, lantai berubin putih, tak ada kapur dan papan tulis kayu."
Akan kubisikkan, "Jangan kaget!"
Sebab otak semakin kosong
Pendidik tak sehalus budimu
Kepintaran terpenjara di terali bilangan
Potensi terkubur dalam standar angka-angka
Hingga generasi bangsaku perlahan mati
Terpaksa kalah dan penanya patah
Makassar, 1 Mei 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan