Kamis, 07 Januari 2010

Mengelitik Sadar Cinta



Menggelitik sadar cinta
Kutemukan ia tertidur dalam hati
Mengigau tak tentu arah
Sesekali menggaruk kepala

Menggelitik sadar cinta
Kudapati ia tertawa di beranda qalbu
Berkisah tentang dirinya
Sambil menyeruput secangkir teh

Menggelitik sadar cinta
Ia beku di jantung kengkuhan
Tak sedikitpun bergeming
Meski tuk mengembangkan sebuah senyum

Menggelitik sadar cinta
Ia menggigil dalam batin
Menangis ketakutan
Pada ancaman kematian

Menggelitik sadar cinta
Aku ikut geli
Aku ikut ngigau
Aku tertawa
Aku menggigil
Aku mati

Bulukumba, 07 Januari 2010

Rabu, 23 Desember 2009

Lentera Putih


Aku ingin hempaskan hitam
Menjadi putih di telaga sunyi
Sebening hati di balik senyummu
Yang dulu memar oleh ambisi

Aku bermimpi merangkak ke hulu
Berteman angin mendesir kelabu
Mengejar putihnya senandung-Mu
Dalam bisikan mereka

Kutemukan Dia berselimut dingin
Mencandai rinai di balik bukit
Seperti mati yang selalu sendiri
Berpendar dalam kebekuan ego

Akankah kelak kubersanding putih
Yang KAU titipkan dalam semesta
Merindui-Mu dengan sederhana
Mencintai-Mu dengan sempurna

Purnama Membasah

Sebingkai purnama
Menggantung di sudut matamu
Ada yang ingin jatuh
Perlahan surut oleh cahaya purnama

Esok kau akan memetik bintang
Berharap permata hati tetap bersuka
Meski perih kau telan sendiri

Matamu Berkisah


Matamu membasah
saat sepotong doa terlantun
Bibir bergetar, jemari mengusap dada
Saat kata yang ingin kau ucap menjelma belati
Beribu cerita terlulis di matamu
Tentang kesabaran
Kisah keihklasan
Parade tetesan air mata
heroiknya perjuangan hidup
dan garis kerisauan yang tergurat di wajahmu

Irama suara terbata
Tetesan telaga bening tak terbendung
Berhentilah berkisah, jika membuatmu luka

Matamu mengantar aku pada episode terakhir
Darinya ku tahu, betapa besarnya cintamu
I Love You Mom....

makassar, 22 Desember 2009

Sabtu, 07 November 2009

Lika Liku Luka

Lika-liku luka, terdampar pada pinggiran selokan
Membentur sebuah orok, teronggok dikerumuni lalat

Lika-liku luka, menempel pada dinding warung remang-remang
Mengintip seorang perempuan membiarkan selangkangannya dipenuhi noda
Dan tubuh bermandi cemooh
Agar periuk tak sekering kemarin

Lika-liku luka, mengetuk pintu rumah semi permanen
Menyusun tumpukan barang bekas yang menimbuni mimpi seorang bocah
Bermain mobil-mobilan di taman bermain sambil berkeliling di pusat perbelanjaan

Lika-liku luka, terjepit di antara bata merah
Merekam biografi buruh bangunan
Mencandai matahari dengan tubuh dekil
Menyusun mimpi di atas pasir, memiliki rumah layaknya Si Tuan

Lika-liku luka, mendentingkan terali-terali buih
Membuka memoar Si Pencuri ayam jantan
Separuh wajah memar diamuk massa, meratapi nasib menjadi Wong cilik

Lika-liku luka, berdiri mematung di depan pagar besi
Menatap laras panjang, penjaga bangunan megah bercat putih
Tempat penawar luka diramu dalam bejana berlubang

Makassar, 27 Oktober 2009

Amarah Mayapada

Garang surya menikam ubun-ubun
Mengecam tawa pemilik ladang beton yang menjadikannya rapuh
Merobek pesona wajah pesolek yang tak henti mengutuk datangnya
Kornea mengering, mata tak mampu lagi menyaksikan hijaunya perbukitan

Tak ada setitik oase menyisa
Untuk sekedar melepas dahaga pengembara
Semua tertelan mayapada
Menjelma seonggok batu membara
Sebagai saksi ketamakan anak-anak Adam

Makassar, 01 November 2009