Kamis, 09 September 2010

Puisi Tanpa Kata




Kata yang tersimpul dalam jiwa
Menyeruak riuh bantahkan dialog semesta
Berbagai cara coba melukis mayapada
Tak satu pun sketsa dapat merupa sempurna

Angan ini begitu jauh melintasi alam bawah sadar
Menari-nari bersama imajinasi paling liar
Birunya langit di depan mata
Menjelma bias-bias cahaya tak jelas
Berkelebat kelebat menghantui kembara ini

Mencoba bisiki jiwa
Perlahan menanyai rasa
Masihkah segumpal daging itu memerah?
Masihkah iya berair mata?
Tak eloklah hidup berselimut sangkaan
Ibarat puisi tanpa kata
Mati berselimut makna...

Senin, 16 Agustus 2010

Bisik Bisik Ke-merdeka-an


Ibu, mengapa banyak bendera
Untuk apa mimbar di lapangan sana
Ada yang ulang tahun?
Mana kue tarnya
Atau nasi tumpeng saja
Mungkin hanya air putih yah, Bu.....


Anakku, sebentar siang ada yang hajatan
Pesta besar
Dihadiri orang besar
Ssssssssstttttttttt....jangan ribut
Sebab disanalah resah akan terbelah
Janji akan tumpah
Rayuan kegelisahan terbungkam
Romansa melankolik diputar kembali


Hajatan apa, Bu??
Aku ingin ke sana
Melihat paman-paman yang berbaju bagus
Mencium aroma wangi, bukan minyak gosok milik bapak
Aku ingin minta dibelikan kembang gula
Mumpung mereka lagi ngumpul


Sudahlah, Anakku....
Tak perlu banyak berharap
Minta di kedai mbok Minah saja
Permen lima ratus perak lebih dari cukup untukmu
Biarkan paman-paman itu menyelesaikan ritualnya
Ayo kembali bekerja
Pungut botol-botol bekas itu
Agar ditukar dengan recehan
Buat sekaleng beras hari ini


Bulukumba, 07 Ramadhan 2010 (hari kemerdekaanku....kian lusuh Indonesiaku)

Jumat, 13 Agustus 2010

Segelas Teh Di Suatu Sore


Sebelum segelas teh kehilangan hangatnya
Mampirlah
Mari saling bicara
Tentang metafora hidup
Yang belum kau temukan

Duduklah
Nikmati sejenak indahnya sore
Yang ditudungi mega merah
Darinya kita berkaca
Tentang waktu yang senantiasa berganti
Kadang terang
Dan gelap pun ada

Senyumlah
Kalahkan mendung di matamu
Jangan biarkan titik-titik hujan jatuh
Saat gulungan ombak menjilat-jilat
Yang ada dirimu akan tenggelam
Dalam duka yang tak berujung

Teguklah segelas teh sebelum ia terlanjur mendingin
Rasakanlah hangatnya merasuk ke celah-celah jiwamu
Setelah itu barulah menata hati
Lalu tanyai akal
Hendak ke mana
Untuk apa
Dan kembalimu di mana

 Bulukumba, 03 Ramadhan 1431H (sore, menanti segelas teh segarkan kerongkongan)

Rabu, 11 Agustus 2010

Kidung Si Kecil

Pada malam sepi terbuai sunyi
Dan angin yang berhembus malu-malu
Suntinglah mimpi yang selama ini dingin
Agar harapan bukan hanya sekedar penghias tidur
Yang bertaburan di langit-langit hati saat terjaga
Lalu menggelembung
Menguap tanpa arti

Pada rembulan yang tersenyum sumringah
Ajaklah bintang berteduh di langit jiwa
Sinarilah setiap resah-resah dada
Yang melilit gerak menjadi sempit
Biar mayapada terjejaki sejauh mungkin
Dan hidup tak hanya sebatas menyuapi perut

Pada kidung-kidung alam
Pada melodi-melodi doa
Teduhkanlah rasa yang gundah
Serta ambisi yang selalu menggelora
Belajarkan ego sebijak penyair
Kala mendendangkan nyanyian-nyanyian qalbunya
Agar setiap detik tak berlalu sia-sia
Dan diri dapat menghamba dengan sempurna

Pada Yang tak terbatas
Diri ini milk-Mu

Bulukumba, 02 Ramadhan 1431H (pukul 02.40 WITA)

Berlayar Di Bulan-Mu

Kamis, 22 Juli 2010

Bersahabat Dengan Cinta (cerita lawas)

love is short
forgetting is long
and understanding is longer still


Cinta memang sulit untuk dipahami, anehnya mengapa bisa begitu banyak yang terinspirasi dari kata CINTA tanpa mau tahu apa defenisi CINTA. Namun semakin orang memenjarakan CINTA dalam sangkar defenisi, maka semakin pula bertambah kebingungannya tentang apa sebenarnya CINTA itu.

Terkadang kita merasa telah mencintai sesuatu dan berhasrat memilikinya. Padahal, lama-kelamaan waktu akhirnya menjelaskan bahwa itu sebenarnya bukan CINTA, melainkan hanyalah sebuah keserakahan nafsu manusia yang coba mengatasnamakan CINTA. Terkadang pula kita merasa sangat benci pada sesuatu itu, bahkan kita berusaha menjahuinya. Tetapi lambat laun ketika ia benar-benar pergi menjahui kita. Hadirlah rasa kehilangan, rindu dan berbagai hal yang membuat hati kita ingin sekali memanggilnya kembali, dan.... mereka menyebut itu CINTA.

Cinta itu aneh ya…..? tetapi dibalik keanehannya, terpendam berjuta keindahan bagi manusia yang benar-benar memposisikan CINTA sebagai sahabat hidupnya. Mungkin ada benarnya bahwa CINTA itu bukan untuk dimiliki. Dia hanya bertugas untuk menemani kita dan menjadikannya tempat berkeluh kesah, sebab istana yang paling CINTA sukai adalah hati. Dan inilah organ yang paling sensitif dan melankolik yang dimiliki manusia yang seringkali menantikan penyejuk yang bernama CINTA. Dan kesejukan itu tidak akan mungkin hadir jika CINTA, kita tempatkan pada kotak kaca dan berusaha kita miliki sendiri! Mengapa? Karena CINTA tak suka pada istana hati yang egois.

Coba saja engkau paksakan CINTA jadi milikmu sendiri! Pasti engkau akan merasakan sakit yang luaar biasa. Tak jarang loh! Sumpah serapah ditujukan pada CINTA, tetapi tak jarang pula banyak orang memuja CINTA, sekali lagi mengapa? Manusia marah pada CINTA karena mereka kecewa dan sakit hati sebab CINTA yang ia puja, juga ada pada manusia yang lain. Mereka enggan berbagi, padahal CINTA itu dapat hadir dan ditemukan kapan dan dimana saja. Wajarkan? Jika setiap manusia berhak bersahabat dengan CINTA, dan mereka memuja CINTA karena dengan berkenalan dengannya sebagian manusia belajar untuk hidup bersama. CINTA mengajarkan mereka makna ketulusan dan CINTA pulalah yang mengajak mereka untuk meleburkan ego individu menjadi ego semesta. Jika sudah begini CINTA akan tersenyum, karena dia berada pada istana hati manusia yang mengerti akan dirinya. Kerinduan serta kedamaian akan benar-benar terwujud karena CINTA berada diantara mereka. Sehingga prasangka, sekat-sekat hati dan kecemburuan akan terbang bersama angin keangkuhan. Cinta itu indahkan…? So… jadikanlah CINTA sebagai sahabat hatimu.

Mari sama-sama belajar!!!!!!!