Sabtu, 23 Juni 2012

Usikan Rinai Hujan


Sungguh inilah bahasa hujan yang paling sendu

Menitik halus satu persatu, menyentuh denting jiwa terdalam

Mengetuk pelan kehampaan qalbu, yang telah dimatikan rasa. Bagaimana tidak, sejuk itu memilin diri, menjatuhkannya pada kebersalahan manunggal pada satu jiwa yang tak kuberi ruang menyempurna. Yang selalu saja datang layaknya hujan saat kegersangan benar-benar membunuh nurani.


Bukan sengaja pastinya. Sebab purnama terlalu indah dan tak ingin kubiarkan berlalu tanpa satu kecupan di keningnya. Bahkan jika bisa, aku ingin memeluknya malam ini juga.

 Oh… Dikau pasti tahu, bahwa purnama hanya hadir semalam. Selebihnya, hanyalah sisa-sisa cahaya yang latah dan tidak sedap untuk dikagumi. Dan kau, tak hanya datang malam ini saja kan?? Maka salahkah, jika aku mengagumi purnama sebagaimana layaknya kebanyakan orang.

Rinai hujan sore ini, kembali bermain-main dalam ruang sadarku. Mengingatkan bahasa rindu satu jiwa yang selalu bercerita tentang penghujung waktu yang akan digapai. Bahwa, hidup harus dimaknai untuk sesama, dan bukan hanya sekedar merindukan purnama.

Bahwa, di sana cahaya lilin kecil sedang tertatih-tatih mempertahankan sinarnya agar tetap berbagi terang dalam gelap. Secuil terang yang selalu siap ikut kemanapun aku pergi, bahkan siap lebur tanpa kuminta pun. Dia tidak seterang purnama dan kesadaranku mengakui kesederhanaan dan pengorbanannya. Manusiaku selalu tahu bahwa lilin kecil itu mempersembahkan cinta yang begitu sublim. Bukan dia yang nun jauh di sudut langit sana, yang datang dan perginya selalu tanpa kabar.

Sekali lagi, jiwa memendarkan rasa pada titik-titik hujan untuk mengalir entah kemana bersamanya. Engkau tahu alasannya, sebab saat ini aku masih terobsesi memeluk purnama. Dan engkau benar bahwa “aku harus memilih satu di antaranya agar tidak lebur pada semu yang menyisakan banyangan saja.” Harapmu masih seutuh rindu yang selalu kau selip pada setiap tanya saat rinai hujan mengusik kita.

Hanya saja, perjalanan panjang yang sebagian telah kita lalui selalu butuh ritme. Sebuah kekosongan pikiran untuk belajar meresapi aroma tanah basah yang baru saja dicumbui hujan. Atau setidaknya merasai kemurungan cakrawala yang diliputi kepekatan awan, atau kelakar halilintar yang menggoda keberanian kita. Bukankah hujan, lilin kecil, dan purnama hanyalah denting-denting nada yang juga untuk kita lagukan sejenak??

Disitulah kita tahu, akan kemana ujung perjalanan ini. Sebab tanpa semuanya, mana boleh kita membandingkan yang gelap dan paling terang. Yang pastinya, biarkan ujung jemariku merangkai percikan hujan, setelahnya aku pasrahkan jalan ini pada-Mu.

Makassar, 11 Juni 2012 (Ditemani sebatang lilin dan denting hujan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan