Sabtu, 23 Juni 2012

Black Shadow


Entah bagaimana ceritanya, dia adalah perempuan kecil yang takut akan gelap. Menurutnya, kegelapan adalah sebuah ruang yang penuh dengan cemeti. Kegelapan adalah jiwa yang bergelayut kesengsaraan. Iya, demikianlah sederhananya dia memaknai gelap. Pernah suatu hari, kutemui dia begitu menggigil dalam kegelapan. Namun dia pun enggan bercerita, mengapa? Yang pasti, keringatnya bercucuran, suara terbata-bata, matanya mencari-cari titik cahaya, dan tubuhnya yang lunglai, cukup memberiku isyarat bahwa dia sedemikian takut. Begitulah, aku mengenalinya. Anak perempuan manis dengan seribu satu pertanyaan bergelantungan di wajahnya.


Namanya Mutiara. Tetapi orang-orang di sekelilingnya memanggilnya Ara. Sejak satu tahun yang lalu, dia diasuh oleh seorang ibu paruh baya yang tanpa sengaja menemukannya tertidur di depan sebuah pusat perbelanjaan. Waktu itu, hujan sangat deras dan kabut pun menutupi kaca jendela Si Ibu. Dalam kondisi yang demikian, terpaksa dia memojokkan mobilnya di salah satu sudut emperan toko yang tidak jauh dari sebuah pusat perbelanjaan tempat Ara tertidur pulas. Dari jauh, ekor mata ibu itu tidak sengaja melihat sosok mungil berselimut plastik bening bergerak membolak-balikkan tubuhnya. Awalnya dia terkejut, karena waktu telah larut malam. Tetapi rasa iba berbaur penasaran, membawanya datang mendekati anak itu. Dia mengajaknya pulang saat diketahuinya bahwa anak itu sebatang kara. Sejak saat itu, Ara adalah bagian dari keluarga mereka. Dia sekarang telah berumur lima tahun. Usia yang sangat baik untuk berimajinasi tentang banyak hal melampaui usia kanak-kanaknya.

                                                                                          ***
 Aku bertemu anak itu ditanpa sengaja. Dia adalah salah satu siswa di tempat mengajarku yang baru. Pertama kedatanganku di sekolah itu, dia mengintipku dari balik lemari buku yang berjejal di ruangan baca. Mungkin di benaknya aku adalah orang asing yang patut diwaspadai. Kuperkirakan seperti itu dia menilaiku karena tatapannya begitu tajam. Pertama kali itu, aku mengabaikannya. Tetapi setelah lama, kudapati berbagai cerita tentang dirinya yang mengundang penasaranku. Beberapa guru di sekolah itu menganggapnya anak troublemaker. Dibandingkan dengan anak-anak perempuan sebayanya, Ara memang terbilang agresif. Dia lebih senang berlarian ke sana-kemari. Seringkali pula, dia mengganggu teman-teman yang ditemuinya saat berlarian. Dia merasa sangat senang jika, salah satu korbannya sampai menangis. “Berbagai cara telah dicoba untuk membuat anak itu tenang. Namun sampai sekarang hasilnya nihil,” kata salah seorang teman mengajarku. Tetapi aku malah merasa tertantang mencoba mendekatinya.

Dari situlah, kudekati dia pelan-pelan. Setiap pagi kusambut dia dengan sebuah senyuman. Awalnya, dia biasa-basa saja, bahkan nyaris tidak memedulikanku, tetapi lama-kelamaan dia perlahan mendekatiku. Selanjutnya, dia tidak segan lagi bermanja di pangkuanku. Berbagai aktivitas terlewati bersama dan dia pun mulai mengurangi keusilannya dengan teman-temannya. Namun satu sifatnya tetap bersamanya, dia memang anak yang agresif. Dia hanya bisa duduk tenang dalam tempo lima menit. Selebihnya dihabiskan berlari-larian, atau berjalan menepi ke dinding yang penuh dengan gambar-gambar dan memerhatikannya sambil meraba-raba dengan jemari kecilnya satu-persatu. Yang aneh, setiap kali jari-jari kecilnya menyentuh gambar yang bertuliskan good night, maka raut mukanya akan memancarkan kesedihan dan ketakutan yang luar biasa. Sungguh pemandangan yang tidak pernah kutemui. Mutiara takut pada kegelapan.

Mungkin karena sebagian masa kanak-kanak anak itu tergadai menyusuri gelap. Atau bisa juga kegelapanlah yang mendekapnya pelan namun menikam, kadang. Tetapi bukankah sekarang seorang ibu telah memberinya setitik cahanya? Seharusnya dia tidak lagi menjadikan kegelapan sebagai hantu yang mengerikan. Hampir setiap malamku, terlewati dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Namun Mutiara menyimpan rapat kerisauan itu dalam kepolosan kanak-kanaknya. Ah… anak-anak memang selalu punya cara sendiri untuk bertahan hidup.

                                                                                                 ***

Perhatianku masih terfokus pada sosok kecil itu. Meski setiap pagi dia telah belajar memberiku satu senyum paling manisnya, namun tatapan matanya tetap diselubungi kelam. Karena itu, hari ini kuputuskan untuk bertanya pelan-pelan padanya. Pulang sekolah sekitar pukul 11.30 mungkin waktu yang tepat, karena biasanya dia akan menunggu ibu angkatnya datang menjemput sekitar 60 menit. Waktu ini akan kugunakan mendekatinya. Sebagian teman mengajarku menyarankan agar aku bicara langsung dengan ibu angkatnya. Tetapi aku tidak mau. Kupikir ibunya Ara tidak tahu tentang hal ini karena dia tidak pernah bercerita tentang ketakutan anak itu. Dia selalu mengatakan Ara adalah anak yang baik, penurut, dan ceria. Meski kupikir tidak demikian. Sorot matanya jelas menggambarkan kesedihan, kegerian, dan ada sesuatu yang sulit kubahasakan bersarang di sana.

Kulihat Mutiara, bergelantungan pada ayunan kayu di halaman sekolah. Dia tertawa sendiri sambil memacu ayunan dengan kencangnya. Kudekati dia. Kuajak untuk sedikit melambatkan tempo ayunan agar aku bisa duduk bersamanya. Dia pun melakukan ajakanku. Kami duduk berdampingan, sambil sebelah tanganku merangkul pundaknya. Kutanyai dia, perbuatan baik apa yang dilakukannya hari ini?
“Merapikan tempat tidur sendiri,” jawabnya.
Lalu kutanyai lagi, “pukul berapa, Ara akan dijemut?”
“Kata ibu tadi, dia akan datang terlambat.”

Dan kuajak dia masuk kembali ke ruangan guru, karena langit terlihat mendung siang itu. Dia pun ikut bersamaku, kupegangi pergelangan tangannya, kami berjalan bersama-sama. Firasatku benar, selang beberapa menit kami meninggalkan ayunan itu, hujan pun turun bersamaan dengan petir dan guntur saling silang.

Pada saat itu, kudapati wajah Ara pucat pasi. Dia bersembunyi di belakangku seolah-olah ada yang hendak mendekatinya. Aku tersadar bahwa lampu lupa kunyalakan. Dan mungkin ini sumber kecemasannya. Ketegangan di wajahnya sedikit menghilang saat ruangan telah disinari cahaya lampu neon. Untuk membuatnya nyaman kuberikan sebuah buku cerita bergambar padanya. Dia meneliti secara seksama gambar-gambar dalam buku itu sambil sesekali bertanya padaku. Perlahan, dia kembali tenang seperti saat di ayunan tadi. Sekarang, niat awalku menanyai tentang dirinya muncul kembali. Aku mulai menyusun satu persatu pertanyaan, dan berpikir akan memulai dari mana lagi. Kembali kudekati dia, dan kusematkan salah satu lenganku di bahunya. Niatku ingin merangkulnya agar dia bisa lebih terbuka padaku.

Di luar sana, hujan masih deras, namun dia telah bersinar kembali. Tetapi kondisi itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba saja, suara guntur bergemuruh begitu keras dan membuat lampu padam. Ara menjerit sejadi-jadinya dan tidak kudapati dia bersamaku lagi. Aku tidak tahu kemana dia sekarang, namun jeritannya semakin keras disertai dengan tangisan anak-anak yang memilukan. Di sela-sela jerit tangisnya, kudengar potongan-potongan kata-katanya, “jangan pukul ibu, Ayah…..jangan pukul ibu. Tadi kami sama-sama mencari uang di Anjungan Losari, tetapi ibu sakit jadi kami cepat pulang. Ayahhhhhh….jangan pukul ibu.”

Aku meraba-raba tempat di mana Ara berada sekarang. Tetapi dia belum kudapatkan. Hanya suaranya yang masih lamat-lamat kudengar, “Ara tidak akan nakal lagi….. Jangan masukkan Ara di tempat itu. Di sana gelap, Ara takut…. Ibu, Ayah…Keluarkan Ara….”

Dia masih terus menangis, sementara lampu masih tetap padam akibat sambaran petir. Hujan di luar sana terus menderas, petir dan guntur berlomba saling-silang.

“Ara, dimana kau, Nak?”
“Tolooong, Bu guru…. Jangan biarkan mereka memukuli ayah dan ibuku. Ini sudah larut malam, suruh mereka pergi….!!” Jeritnya.
“Ara…. Kamu dimana, sayang?”

Dia tidak menjawab, hanya suara tangisnya yang terdengar. Aku berusaha mencari-carinya, dan akhirnya kudapati dia berpeluh keringat di dalam sebuah lemari buku kecil, duduk tertelungkup. Dengan cepat kuraih dirinya, dan kubenamkan dalam pelukku. Masih sempat kudengar dia berkata, “bukan salah Ara, Bu. Jangan hukum Ara di tempat ini lagi.”

Hatiku tersayat dengan semua yang kusaksikan siang ini. Kupeluk erat dia, sambil sebelah tanganku mengusap-usap rambutnya. Kusenandungkan lagu Kupu-Kupu yang Lucu, untuknya agar dia tertidur dan merasa aman bersamaku. Hujan yang menderas, petir dan guntur saling silang, lampu yang padam. Mereka membantuku siang ini, memecah satu teka-teki tentangnya. Tentang seorang anak yang terpasung masa kanak-kanaknya dengan realitas  tidak wajar. Yah… dia Mutiara. Si kecil yang latah dunia kecilnya, yang memendam seribu satu kelam di matanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan