Dia, lelaki tua bertubuh lunglai….
Berteman gerobak,menyisir senja dengan sejuta asa
Memungut remah-remah rezeki yang bertebaran di sepanjang jalan
Dia, rangka usang yang berusaha tegak
Menahan beban berat yang menimpa kala matahari memanggil malam
Menanti kebaikan hati Tuan, menikmati apa yang digadainya
Dia, sekilas raut berupa duka
Tersembunyi pada tulang-tulang yang terjepit kulit
Sejumput harap bersemi di hatinya, “akankah daganganku selaris kemarin?”
Bulukumba, 3 Maret 2010
(Buat: Si pabak tua yang setiap sore mendorong gerobak kacangnya dengan tertatih-tatih dan markir di depan masjid saat waktu shalat maqrib tiba...aku haru, aku salut, dan aku tak tahu harus membahasakan takjubku padanya. seandainya kalian semua melihat, mungkin apa yg kurasa sama seperti apa yg kalian rasa. Kenapa harus sedia ini, dia berjalan memungut rezeki....TUHAN!!!!!)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan kritik apa saja yang anda lihat, rasa, dan pikirkan